Langsung ke konten utama

Perkembangan Kewirausahaan Internasional

BAB I
PENDAHULUAN
A. Dasar Pemikiran
      Kompetisi global terjadi disebabkan adanya perkembangan kewirausahaan internasional. Dengan kata lain sebagaimana Rohmat (2015: 43) memaparkan bahwasannya terjadinya kompetisi global, salah satu faktor penyebabnya adalah terjadinya perkembangan kewirausahaan internasional. Perkembangan kewirausahaan internasional sebagaimana terlihat di negara-negara maju seperti USA, Prancis, Inggris, China, Korea, Singapura, Malaysia dan lain sebagainya. Perkembangan yang tampak di negara-negara tersebut memberikan kecondongan kepada persaingan internasional.
      Munculnya berbagai kegiatan di pusat-pusat perbelanjaan untuk melayani kebutuhan masyarakat selama 24 jam adalah gejala adanya perkembangan kewirausahaan internasional tersebut. Lebih lanjut Rohmat (2015: 43) memaparkan bahwa dekade ini, Indonesia mengalami perkembangan yang serupa seperti pelayanan pusat-pusat perbelanjaan yang ada untuk waktu 24 jam. Terlepas dari sisi moralitas kewirausahaan, kegiatan pelayanan 24 jam menunjukkan adanya perkembangan secara global di dunia wirausaha.
      Kegiatan lain kewirausahaan internasional ditunjukkan oleh berbagai international entrepreneurship adalah market international, partner international, global networking, dan academic institusional (the Anderson School at UCLA); international entrepreneurship venture, investors.International Venture Cpital Fund (Daniel J.Isenberg) sebagaimana pemaparan Rohmat, menyatakan bahwa women almost as likely as to start new ventures.
      Bisnis menggunakan media on-line dewasa ini menunjukkan perkembangan luar biasa. Penawaran aneka produk menjadi sangat mudah menembus lintas negara. Adanya fitur-fitur sosial media yang mudah diakses dan ditawarkan dalam sistem komunikasi, tentunya semakin mempermudah dalam penawaran aneka produksi (Rohmat, 2016: 99). Hal ini tentu tidak terlepas dari adanya kewirausahaan internasional. Peran internasional dalam berbagai macam pola dan cara menggali pasar hasil produksi.
      Dari pemaparan dasar pemikiran di atas, maka layak untuk didiskusikan makalah dengan judul “Perkembangan Kewirausahaan Internasional”.
B. Rumusan Masalah
      Setelah melakukan uraian pada dasar pemikiran, dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
1.  Apakah pengertian dari perkembangan kewirausahaan internasional ?
2.  Bagaimana perkembangan kewirausahaan internasional ?
C. Tujuan
      Tujuan yang dicapai dalam makalah ini sebagai berikut :
1.  Untuk mengetahui pengertian dari perkembangan kewirausahaan internasional.
2.  Untuk menganalisis perkembangan kewirausahaan internasional.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perkembangan Kewirausahaan Internasional
      Perkembangan berarti perihal menjadi besar dan lebih luas (KBBI). Sedangkan kewirausahaan berasal dari bahasa Perancis “entrepreneur” yang bermakna memikul dan mencoba. Istilah kewirausahaan sering disebut wiraswasta, terjemahan dari enterpreneurship. Propota sebagaimana pemaparan Rohmat (2015: 56), menyatakan bahwa istilah kewirausahaan sebagai individu yang melakukan kegiatan dalam memulai usaha-usaha baru dan memastikan bahwa usaha-usaha tersebut menghasilkan keuntungan.
      Berbeda dengan Propota yang menekankan adanya keuntungan dalam kewirausahaan, Mohd.Saleh mendefinisikan kewirausahaan dengan menekankan kepada  sikap, kecakapan, dan pengetahuan. Sedangkan Rohmat mendefinisikan kewirausahaan adalah kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan dengan berdikari, inovatif, dan siap menghadapi resiko yang mempunyai tujuan mencapai kesuksesan dari segi materi dan non materi.
      Lebih lanjut Rohmat memaparkan kewirausahaan berarti suatu kegiatan melembaga dalam diri sendiri yang terstruktur untuk menangkap suatu peluang dengan suatu resiko secara inovatif dan kreatif pada setiap diri manusia (Rohmat, 2015: 55). Fillon LJ., sebagaimana pemaparan Rohmat mengatakan bahwa kewirausahaan adalah aktor imajinasi yang menyadari peluang kewirausahaan, membuat keputusan berisiko dengan tujuan berinovasi, dan mengambil tindakan dengan menggunakan sumber daya untuk menerapkan visi berbeda yang memberikan kontribusi nilai tambah. Sedangkan internasional berarti menyangkut bangsa atau negeri seluruh dunia (KBBI).
      Dari pemaparan di atas pemakalah menyimpulkan perkembangan kewirausahaan internasional berarti kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan dengan berdikari, inovatif, dan siap menghadapi resiko yang mempunyai tujuan mencapai kesuksesan dari segi materi dan non materi berproses ke arah lebih luas hingga menyangkut bangsa atau negeri seluruh dunia.
B. Perkembangan Kewirausahaan Internasional
      Secara garis besar, pemikiran tentang kewirausahaan dapat dimulai dari masa pra sejarah, kemudian masuk pada masa dimana pemikiran kewirausahaan dipengaruhi oleh ekonomi (pada masa gerakan klasik, neoklasik dan proses pasar
Austria / Austrian Market Process (AMP)) hingga masa pemikiran kewirausahaan
berdasar pada multidispliner.
      Unsur-unsur konsepsi ditempatkan secara kronologis dan digolongkan menurut 3 kategori basis yakni basis pra sejarah, basis ekonomi dan basis multidisipliner. Mengingat sejarah bersifat kronologis, unsur-unsur konsepsi lebih diutamakan dari pada temporal, hasilnya adalah pengertian tentang bagaimana teori masa lalu dapat memberikan informasi pada teori selanjutnya.
1.  Interpretasi kewirausahaan masa pra sejarah
      Abad 50 SM Hebert dan Link, mengatakan bahwa keberhasilan kewirausahaan di jaman pertengahan tergantung dari cara mengatasi risiko dan hambatan kelembagaan. Memperdagangkan sumber daya merupakan upaya untuk  bertahan hidup. Abad 50 SM di Roma kuno, aktifitas kewirausahaan meliputi fungsi pengendalian sosial, peraturan dan kelembagaan. Aktifitas perdagangan dipandang sebagai hal yang dapat menurunkan martabat dan dianggap mengumpulkan modal untuk kepentingan politik dan sosial. Memupuk kekayaan pribadi bisa diterima asal tidak melibatkan partisipasi langsung dalam proses industri dan perdagangan.
      Selain dari perdagangan dan industri, generasi yang tergolong kaya mendapatkan kekayaan dari tiga sumber (1) Kepemilikan tanah ( disewakan kepada orang lain berdasar sistem feodal pada masa itu). (2) Hasil riba (pendapatan dari hasil bunga pinjaman). (3) Politial Payment (Uang dari harta rampasan atau bagian pajak yang ditujukan kepada keuangan publik jatuh ke pihak swasta).
      Sekitar tahun 500 M golongan kaya semakin rumit / dihadapkan dengan berbagai persoalan. Adanya perselisihan antara hak untuk memiliki properti dan pengaruh gereja dalam perekonomian agraria / pertanian di awal jaman pertengahan.
      Abad pertengahan 1300-1500 M Baumol (1990) mengatakan hilangnya semangat eksploitasi kewirausahaan dan penemuan juga terjadi di abad pertengahan (1300-1500 M) di China, yang dilakukan dengan cara yang berbeda, yakni pada saat kerajaan mengalami kesulitan keuangan, properti dari orang-orang kaya diambil alih oleh kerajaan. Sehingga kedudukan sosial yang terhormat tidak bisa dilakukan melalui kewirausahaan seperti di negara Roma. Kelompok orangorang yang mempunyai kekayaan dan martabat umumnya diperoleh dari penghargaan kerajaaan sebagai hasil ujian yang diberikan kerajaan. Perubahan ini menggambarkan bahwa kepemilikan properti dan status sosial menjadi kurang permanen dan tidak dapat diandalkan, sehingga menghilangkan semangat untuk memupuk kekayaan/properti.
      Sekitar abad 500 –1000 M DeRoover (1963), mengatakan pada abad pertengahan (500-1000 M) ada pandangan baru yang radikal mengenai kewirausahaan di Eropa, dimana kepemilikan properti dan status sosial tidak menjamin keberhasilan, karena ada perubahan bahwa kekayaan / properti dapat diperoleh dari aktivitas militer dan perang. Untuk para pengusaha yang hidup pada jaman ini, peluang mendapatkan sumber daya melalui permusuhan merupakan bagian dari aktivitas kewirausahaan.
      Sekitar abad 1000 – 1500 M ketenangan dan pengaruh gereja mengurangi perkembangan perang. Aktivitas kewirausahaan berubah dan mengarah pada bidang arsitektur, teknik dan pertanian sebagai aktivitas yang menguntungkan untuk menumpuk properti dan kekayaan. Bersamaan dengan perubahan tersebut, gereja melarang adanya riba dan para pengusaha mulai mencari jalan lain untuk memperoleh peluang menumpuk kekayaan. Perkembangan semacam ini, nampak bahwa kewirausahaan lebih bisa diterima masyarakat sebagai aktivitas ekonomi. Mulailah perubahan kewirausahaan menuju pada aktivitas perdagangan. Ada tiga kategori pedagang yang dianggap terhormat yakni para importir dan eksportir, pemilik toko, produsen. Pada masa ini, banyak ahli agama terlibat menjadi pelaku ekonomi, membantu menjauhkan monopoli, gadai, riba dan melindungi masyarakat dari ekploitasi.
      Sekitar abad tujuh belas (tahun 1600 an M) aktifitas kewirausahaan terus berkembang selama abad keenam belas dan tujuh belas. Pengetahuan dan pengalaman membantu dalam mengatasi ketidakefisienan atau dapat memberikan solusi baru untuk penciptaan barang dan jasa layanan.
      Aktivitas perdagangan sebagai kewirausahaan telah lama ada di wilayah Timur Tengah dan Timur jauh saat orang Barat menggunakan pengetahuan dan
pengalaman untuk mencari peluang. Perdagangan sudah berkembang di negara-negara Arab akibat dari meluasnya pengaruh kerajaan Islam, para khalifah memperoleh status terhormat karena berdagang dalam sistem etika Islam (Russel, 1945: 422). Pada masa ini terjadi perdagangan internasional. Perdagangan internasional menjadi alat bagi semua orang untuk keliling dunia dan mempererat persaudaraan (Baldwin, 1959).
      Kondisi pada sekitar abad tujuhbelas, kewirausahaan sudah diwarnai perdagangan. Kewirausahaan sudah menjadi bagian dari pemikiran perekonomian klasik yang berpedoman pada ajaran/prinsip tertentu dalam konteks sistem perekonomian yang berkembang.
2.  Pemikiran kewirausahaan berbasis pada aktivitas ekonomi
      Masa Klasik ( sekitar tahun 1700 hingga tahun 1800an). Cantillon (1755) memperkenalkan konsep kewirausahaan dalam literatur perdagangan, ekonomi dan bisnis. Hasil karyanya (Cantillon, 1755) yakni mendefinisikan ketidaksesuaian antara persediaan dan permintaan, melegalkan untuk membeli barang dengan harga murah dan menjual dengan harga yang tidak pasti serta mengalokasikan barang pada sistem pasar. Pergerakan ekonomi klasik mengikuti pemikiran Cantillon, yakni adanya penawaran, permintaan dan ekuilibrium. Para pelaku ekonomi / wirausaha yang melakukan arbitrase (penjualan aktiva dinilai tinggi dan pembeli aktiva dinilai rendah ) mengalami masalah ketidakpastian dan risiko. Inovasi dan koordinasi menjadi penting pada aktivitas kewirausahaan, misalnya aktivitas kewirausahaan yang dilakukan oleh kebanyakan para petani melakukan ikatan kontrak dengan para tuan tanah untuk mengolah lahan mereka.
      Teori klasik menjelaskan tentang adanya perdagangan bebas, spesialisasi dan persaingan. (Ricardo, 1817 dan Smith, 1776). Pergerakan ekonomi yang terpopuler yakni terjadi revolusi industri di Inggris (1700 hingga berakhir tahun 1830an), persaingan antar industri (misalnya kapas versus jagung) yang menghambat aktivitas dinamika perekonomian sehingga para pengusaha sulit menemukan celah dan peluang.
      Aktivitas perekonomian masa klasik didominasi oleh tiga golongan yakni para pemilik tanah (menghabiskan uang sewa untuk membeli barang mewah), kapitalis (menyimpan keuntungan dan menginvestasikan ke bidang lain) dan para pekerja (menggunakan gajinya untuk membeli kebutuhan sehari-hari). Kondisi ini sesuai dengan pernyataan JB Say (1803) yakni pergerakan klasik menjelaskan peran entrepreneur/ pengusaha melakukan proses produksi dan distribusi pada pasar yang kompetitif. Kondisi pada masa itu, ada tiga faktor produksi yang dapat dikelola yakni tanah, modal dan manusia (tenaga kerja ) dalam industri.
      Beberapa pemikiran yang berhubungan dengan prinsip kewirausahaan pada periode ini dapat didiskripsikan secara diringkas sebagai berikut :
1. Industri dapat digolongkan menurut tenaga kerja, produksi dan aktifitas kewirausahan
2. Gambaran makro tentang aktifitas ekonomi memberikan penilaian obyektif bagi fenomena pasar
3.  Perbandingan spesialisasi produksi ditingkat nasional yang menunjukkan adanya peluang arbitrage
4.  Keuntungan berupa kekayaan atas kepemilikan sumberdaya terus berkembang.
      Masa Neoklasik masa ini dimulai pada akhir tahun 1800 an. Ditandai dengan adanya munculnya konsep diminishing marginal utility untuk menjelaskan kegiatan ekonomi dan membuka cara pandang berbeda dalam menyikapi hubungan antar individu (Menger, 1971). Hasilnya fenomena pasar dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik dan budaya. Aktivitas kewirausahaan menjadi unik dan dipandang sebagai masa transisi/ perubahan ilmu pengetahuan, yang mana aktivitas kewirausahaan berusaha mengubah/mentransformasi sumberdaya dari produk menuju layanan/jasa. Hal ini sulit untuk diprediksi karena kondisi ketidakpastian. Pemikiran ekonomi semakin canggih selama pergerakan neoklasik.
      Pada masa ini para pengusaha lebih cenderung pada alokasi sumberdaya dari pada mengakumulasi modal (Schumpeter, 1934). Dari kecenderungan ini maka aktivitas kewirausahaan akan memperkenalkan produk baru, model produksi, penciptaan pasar serta bentuk organisasi baru. Kewirausahaan melibatkan inovasi untuk mendorong kreasi dan menemukan sesuatu yang baru. Schumpeter menjelaskan aspek inovasi yang dilakukan oleh para pengusaha sebagai hal pengrusakan kreatif, namun hal ini dapat dipulihkan oleh pelaku pasar lain yang mencoba menyeimbangkan sistem pasar.
      Diskripsi perkiraan kejadian masa neoklasik :
1.  Alokasi sumberdaya dan keputusan lainnya adalah pilihan berdasar pada keputusan yang bersifat subyektif
2.  Diminishing marginal utility dapat membimbing para entrepeneur / pengusaha dalam pengambilan keputusan
3.  Perbedaan harga dalam sistem pasar membuka peluang arbitrage
4.  Kewirausahaan meliputi hal-hal baru yang berhubungan dengan metode produksi, pasar, bahan baku dan organisasi
5.  Pengusaha menciptakan perubahan lingkungan dan merespon lingkungan tersebut.
      Masa proses pasar Austria (AMP/Austia Market Process). Dari pemikiran pada masa neoklasik bahwa untuk mengetahui fenomena ekonomi (dalam rangka mencari peluang) tidak perlu mencari semua informasi yang berkaitan dengan sistem ekonomi. Namun, jika ini dilakukan maka merupakan pekerjaan yang tidak praktis. Tentunya dibutuhkan pengetahuan khusus pengusaha untuk mencari peluang dan membuat keputusan dengan tepat. Jika pengusaha tahu bagaimana cara untuk menciptakan barang atau layanan melaui inovasi atau mengetahui cara yang lebih tepat untuk melakukannya, maka keuntungan bisa didapatkan melalui pengetahuan ini.
      Lebih baik, pengusaha didorong untuk menggunakan pengetahuan untuk memperoleh nilai. Pada masa AMP ini para pengusaha berkonsentrasi untuk mencari informasi dengan segala pengetahuan yang mereka miliki untuk mencari dan menjalankan peluang serta mengambil keputusan dengan tepat. Berdasar pada ide-ide neoklasik (Scumpeter, 1934), AMP menjadi bagian kewirausahaan yang menggerakan sistem berbasis pada pasar.
      Perkiraan yang berhubungan dengan kewirausahaan pada pergerakan AMP
meliputi :
1.  Aktivitas dan keputusan pengusaha (entrepreneur) berbasis pada fenomena dalam sistem pasar.
2.  Kesalahan dan ketidakefisienan menciptakan kesempatan penemuan (peluang) bagi pengusaha.
3.  Pengusaha menghadapi ketidakpastian
4.  Informasi dan koordinasi adalah bahan dasar kewirausahaan
3.  Pemikiran kewirausahaan berbasis pada multi-disiplin
      Pendekatan kewirausahaan berdasar pada ilmu ekonomi mulai mengalami perubahan pada abad pertengahan keduapuluh (sekitar tahun 1950 an ). Setelah itu aktivitas kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti :
1. Fakor lingkungan dan manusia
2. Faktor manusia mencakup psikologi meliputi keinginan untuk berprestasi, menerima tanggungjawab dalam situasi kompleks dan kemauan menerima risiko dipandang sebagai perbedaan antar individu (McClelland, 1961).
3.  Faktor faktor pemasaran ( Hills, 1994) mempengaruhi aktivitas kewirausahaan
4. Faktor teknologi baru, tingkat modernisasi, ekologi dan populasi organisasi (Reynolds, 1991)
5. Faktor lingkungan seperti peraturan dan kebijakan pemerintah, kebijakan publik, hukum ( Gnywali dan Fogel, 1994).






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pemaparan di atas pemakalah menyimpulkan perkembangan kewirausahaan internasional berarti kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan dengan berdikari, inovatif, dan siap menghadapi resiko yang mempunyai tujuan mencapai kesuksesan dari segi materi dan non materi berproses ke arah lebih luas hingga menyangkut bangsa atau negeri seluruh dunia.
      Secara garis besar, pemikiran tentang kewirausahaan dapat dimulai dari masa pra sejarah, kemudian masuk pada masa dimana pemikiran kewirausahaan dipengaruhi oleh ekonomi (pada masa gerakan klasik, neoklasik dan proses pasar Austria / Austrian Market Process (AMP) hingga masa pemikiran kewirausahaan berdasar pada multidispliner.










DAFTAR PUSTAKA

Hariyanto Respati.Sejarah Konsepsi Pemikiran Kewirausahaan.Jurnal Ekonomi Modernisasi.Fakultas Ekonomi Universitas Kanjuruhan Malang.
Idrus, Syafiie.(1999). Strategi pengembangan kewirausahaan (Entrepreneurship) dan peranan perguruan tinggi dalam rangka membangun keunggulan bersaing (competitive advantage) bangsa Indonesia pada millenium ketiga. Pidato pengukuhan Jabatan Guru Besar Ilmu Manajemen. Universitas Brawijaya.Malang
Rohmat (2015), Manajemen Kepemimpinan Kewirausahaan, Yogyakarta : Cipta Media Aksara.
Rohmat (2016), Terapan Teoritik Pembelajaran Kewirausahaan Mencapai Kejayaan, Yogyakarta : Logung Pustaka.
Rohmat (2015), Nilai-Nilai Moral Kewirausahaan Membangun Bangsa Berkarakter, Yogyakarta: Gerbang Media Aksara.

Rohmat ( 2016), Membangun Bangsa Berwawasan Kewirausahaan, Yogyakarta: Gerbang Media Aksara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MTsN 1 Klaten Di Jeblog mengadakan Asesment berbasis ANDROID

  Kesekian kalinya MTsN 1 Klaten Di Jeblog melaksanakan Asesment Akhir Semester (ASAS) Gasal tahun pelajaran 2025/2026 berbasis Android. Sebanyak 77 siswa telah siap mengikutinya. Untuk menghadapi pelaksanaan ASAS para siswa sudah diberikan pengarahan bagaimana cara menggunakan Android untuk mengerjakan soal soal Asesment. Pengarahan dilakukan untuk memberikan  penjelasan langkah langkah mengerjakan soal soal Asesmen, juga dimaksudkan memberikan pembelajaran kepada siswa bahwa Android bisa difungsikan untuk hal hal yang bermanfaat dan positif. Asesment akan dilaksanakan selama satu pekan mulai tanggal 24 Nopember sampai dengan 29 Nopember. Para siswa akan dihadapkan dengan soal soal untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran selama satu semester. Selain digunakan sebagai pengukur kemampuan siswa juga digunakan untuk memperbaiki kekurangan kekurangan guru dalam memberikan pembelajaran selama satu semester. Maka kejujuran para siswa dalam mengerjakan soal soal as...

MTsN 1 KLATEN DI JEBLOG mengadakan Parenting

  Parenting atau parental meeting adalah pertemuan antara orang tua dan guru mensinergikan dalam membimbing dan mendidik anak. Bersekolah bukan hanya menerima pelajaran akan tetapi juga menerima bimbingan. Maka diperlukan kerjasama bahu membahu antara orang tua dan guru. Pada kesempatan ini, MTsN Jeblog mengundang motivator dan juga merupakan Guru MTsN Jeblog Sugeng Narwanto, S.Pd.,CH., CHt., C.STMI. Dalam sambutannya, Muhammad Amirudin, S.Ag.,M.Pd. selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan bahwa dalam membimbing dan mendidik anak itu harus dengan ilmu. Kesuksesan akan terwujud dengan ilmu. Jika ingin bahagia di dunia dan di akherat maka baginya Ilmu. Demikian juga yang disampaikan bapak Agus Suyatno selaku ketua komite, dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa sikap tegas guru dibutuhkan dalam membimbing anak. Kegiatan berjalan dengan penuh semangat, peserta kegiatan antusias mengikutinya hingga selesai.

MTsN 1 Klaten Di JEBLOG Melatih Keterampilan Siswa Bersama SMK

  Membekali anak dengan keterampilan sangat penting dilakukan sejak dini. Mereka nantinya akan berhadapan dengan tanggung jawab dalam menghidupi dirinya dan keluarganya. Maka dibutuhkanlah keterampilan. MTsN 1 Klaten di Jeblog bersama-sama SMK Muhammadiyah Delanggu membekali keterampilan di bidang otomotif, farmasi, dan multimedia.