Komitmen Mengilmui Islam
Jamaah sidang Jum’ah yang dimulyakan Allah,
Ketika seseorang menyatakan diri
sebagai seorang muslim, dengan cara bersyahadat, berikrar di hadapan Allah yang
Maha Ghaib, dengan disaksikan para malaikat dan sesama manusia, sesungguhnya ia
harus menyadari akan konsekuensi logisnya, yakni ia harus mematrikan dalam
dirinya lima komitmen atau “rasa keterikatan diri” seorang muslim terhadap
agamanya.
Lima komitmen yang dimaksud
adalah (1) seorang muslim harus mengimani Islam; (2) seorang muslim harus
mengilmui Islam; (3) seorang muslim harus mengamalkan Islam; (4) seorang muslim
harus mendakwahkan Islam; dan (5) seorang muslim harus bersabar
dalam ber-Islam. Komitmen pertama yang dengannya seorang muslim harus mengimani
Islam, telah disampaikan pada pertemuan yang lalu. Pada khutbah kali ini, akan
kita renungkan bersama komitmen yang kedua, yaitu seorang muslim harus
mengilmui Islam.
Zumratal mukminin rahimakumullah,
Yang dimaksud dengan komitmen
kedua seorang muslim ialah bahwa setiap muslim, baik laki-laki maupun
perempuan, wajib memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Islam,
yakni berusaha untuk mengerti, memahami, dan menghayati, serta menguasai
Islam, dalam segala aspek ajarannya, sesuai dengan kemampuannya
masing-masing, dalam setiap kesempatan secara terus menerus sampai mati.
Komitmen ini menjadi terasa
ringan ketika kita menyadari bahwa secara global menuntut ilmu tanpa dikotomi
ilmu agama-ilmu umum, merupakan kewajiban individual seorang muslim,
sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:
(طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى
كُلِّ مُسْلِمٍ ( رواه ابن ماجه
Artinya: “Menuntut
ilmu (pengetahuan) itu wajib bagi setiap muslim (laki-laki maupun perempuan).”
(H.R. Ibnu Majah)
Lebih dari itu, agama Islam
adalah agama ilmu pengetahuan, dalam arti agama yang mencerdaskan umat manusia
yang telah diberi Allah Swt kekuatan akal, bukan agama yang membodohi mereka
dengan berbagai mitos dan klenik yang tidak jelas ujung pangkalnya. Perintah
“membaca” yang diulang dua kali pada wahyu pertama yang diterima Rasulullah Saw
menjadi bukti tak terbantahkan akan hal itu. Bukankah membaca merupakan kunci
ilmu pengetahuan?
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ
خَلَقَ (*) خَلَقَ الاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (*) اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلاَكْرَمُ
(*) الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (*) عَلَّمَ اْلاِنْسَانَ مَا لَمْ
يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan. (*) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (*)
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. (*) Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam. (*) Dia mengajarkan kepada manusia (segala) sesuatu
yang tidak diketahuinya.”
(Q.S. al-‘Alaq: 1-5)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Rasulullah Saw pernah
mengisyaratkan adanya kebaikan yang telah diterima seorang muslim dari Allah
Swt, manakala ia memiliki pemahaman dan penguasaan ilmu agama yang
mendalam, sebagaimna sabdanya:
(مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ
فِى الدِّيْنِ … ( رواه البخاري و مسلم و غيرهما
Artinya: “Barang
siapa yang dikehendaki Allah (mendapatkan) kebaikan, niscaya Dia akan
memberikan kepadanya kefahaman di dalam (urusan) agama.”
(H.R. Bukhari, Muslim, dan perawi lainnya)
Oleh karena itu, sudah sepatutnya
kita senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. Mengapa demikian? Karena Allah Swt
telah melapangkan hati kita untuk dapat menerima Islam sebagai agama yang
mempengaruhi dan mewarnai hidup kita, dan sekaligus menandai kita sebagai hamba-Nya
yang senantiasa berada di dalam naungan cahaya-Nya. Allah Swt menegaskan di
dalam al-Qur’an dengan firman-Nya sebagai berikut.
اَفَمَنْ شَرَحَ اللهُ
صَدْرَهُ لِْلاِسْلاَمِ فَهُوَ عَلَى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهِ، فَوَيْلٌ
لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللهِ، اُولَـئِكَ فِيْ ضَلاَلٍ مُّبِيْنٍ
Artinya: “Maka
apakah orang-orang yang dilapangkan hatinya oleh Allah untuk (menerima) Islam,
lalu ia mendapatkan cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang keras
hatinya)?. Maka celakalah bagi orang yang keras hatinya dari mengingat Allah.
Mereka itulah dalam kesesatan yang nyata” (Q.S. az-Zumar :
22)
Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa untuk menjadi seorang muslim yang “kaffah”, tidaklah cukup baginya
untuk berhenti hanya sampai kepada “komitmen mengimani Islam”, namun perlu
memperkuatnya dengan “komitmen mengilmui Islam” dan melengkapinya dengan
komitmen-komitmen lainnya, yang akan dibicarakan pada pertemuan khutbah
berikutnya.
Jamaah sidang Jum’ah yang dimulyakan Allah,
Marilah kita akhiri renungan Jum’at
pada siang hari ini dengan berdoa ke hadirat Allah Swt. Semoga Allah Swt
berkenan menjadikan kita sebagai orang yang antara lain, memiliki komitmen atau
rasa keterikatan diri yang kuat untuk tidak berhenti menggali ilmu pengetahuan
dan pemahaman yang mendalam tentang Islam sebagai satu-satunya agama yang
diridhai Allah Swt.
جَعَلَنَا اللهُ وَ إِيَّاكُمْ مِنَ اْلمُؤْمِنِـيْنَ
الْعَالِمِيْنَ، وَ أدْخَلَنَا وَ إِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ الْرَّاشِخِيْنَ فِى
اْلعِلْمِ، وَ قُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَ ارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
Komentar