BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di kalangan masyarakat Jawa,
tembang macapat telah dikenal sejak pengaruh Islam berkembang di pesisir kian
meluas. Hal itu diperkirakan terjadi pada abad XV1 dan sampai saat ini masih tetap
hidup. Tembang macapat merupakan genre sastra Jawa yang berbentuk puisi dan
dipakai sebagai media pendidikan dalam kehidupan sehari hari masyarakat Jawa.
Banyak tulisan para pujangga atau
raja Jawa yang digubah dalam bentuk tembang macapat, seperti yang tersebut
dalam Katalog Induk Naskah-naskah
Nusantara Jilid I yang berisi naskah-naskah yang
ada di Museum Sono Budoyo Yogyakarta (Behrend, 1990) antara lain yang berisi
sejarah, silsilah, hukum, ajaran, primbon, adat-istiadat, sastra wayang, dan
sebagainya. Sebagai salah satu hasil kebudayaan masyarakat Jawa, tembang
macapat memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat Jawa. Tembang itu begitu sederhana sehingga banyak orang Jawa dapat melantunkan
tembang macapat itu pada zaman tembang itu populer. Oleh karena itu, banyak
pujangga ataupun para raja memilih media berupa wacana tembang ini sebagai
sarana pendidikan atau pesan bagi masyarakat Jawa pada zaman keraton
Kasunananan Surakarta atau Mangkunegaran khususnya.
Pendidikan atau
pesan yang digubah dalam bentuk tembang tersebut antara lain berkaitan dengan
pembentukan watak, moral, atau budi pekerti luhur bangsa dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini agaknya mencontoh
para wali dalam rangka penyebaran agama Islam. Sebagai contoh karya pujangga
besar R.Ng. Ranggawarsita yang berjudul Sêrat Jâkâ Lodang, Sêrat Sabdâ Jati,
Sêrat Kâlâtidhâ, Sêrat Sabdâ Tâmâ. Wulangrèh, Wulang Sunu, Wulang Èstri karya
Sri Susuhunan Paku Buwana IV. Tripâmâ, Wedâtâmâ, Wirâwiyâtâ karya
K.G.P.A.A. Mangkunagara IV.
Karya ketiga
tokoh itu banyak dikenal di tengah masyarakat. Sampai-sampai banyak orang hafal
akan lari-larik dari tembang itu. Pada era modern ini pun tembang macapat masih
ditulis atau diciptakan dengan disisipi pesan-pesan tertentu yang berkaitan
dengan pengembangan budi pekerti luhur bangsa. Têmbang (sêkar) macapat3 merupakan
salah satu jenis puisi di dalam bahasa Jawa yang disebut juga têmbang cilik atau
sêkar alit, atau têmbang lumrah (Laginem, dkk., 1996:26).
Disebut tembang
karena dalam membawakannya sebenarnya harus dilagukan atau dinyanyikan
(Marsono, 1992:77). Hal itu juga dikatakan oleh Arps (1992:14) bahwa tembang
macapat merupakan puisi tradisional tertulis yang biasanya dibaca dalam bentuk
nyanyian. Cara membaca yang harus dinyanyikan ini merupakan salah satu keunikan
dari bentuk puisi dalam bahasa Jawa.
Tembang macapat
merupakan corak kesenian dalam budaya tradisional yang secara kolektif dimiliki,
dikenal, dan banyak mengandung pengetahuan, serta kearifan lokal (local
wisdom) masyarakatnya. Selain itu, juga sarat dengan kaidah, serta berisi
petuah, nasihat, dan berbagai kearifan pandangan hidup Jawa. Tembang macapat
adalah salah satu jenis kesenian yang memadukan antara puisi dengan musik, baik
musik tradisional maupun modern. Pilihan bentuk perpaduan antara tembang dengan
musik itu tidak lepas dari kesenangan nenek moyang etnik Jawa untuk melantunkan
tembang. Ini terbukti pula dengan adanya berbagai alat musik tradisional Jawa
yang telah diciptakan olehnya. Keindahan tembang saat dilantunkan menyebabkan
orang mudah menghafal dan menyimpan dalam hati pesan-pesan yang disisipkan dalam
tembang itu. Selanjutnya dapat diajak dengan mudah untuk melaksanakan
pesan-pesan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika pesan-pesan itu diterapkan
oleh masyarakat dalam kehidupan seharihari, maka pesan itu dapat membentuk cita
rasa keindahan dan kehalusan budi suatu masyarakat. Hal ini sesuai pendapat
Tedjohadisumarto (1958) bahwa tembang juga dapat dipakai sebagai sarana membangun
kehalusan budi dan cita rasa keindahan.
Hal lain yang
menarik dari tembang macapat adalah adanya wujud salah satu anasir budaya Jawa yang
bersifat khas karena isinya mengandung sapaan, amanat, atau pesan bagi
seseorang yang menjadi anggota masyarakat etniknya. Tembang macapat dihiasi
pula dengan aneka simbol di dalamnya yang harus ditafsirkan maknanya. Hal ini
selaras dengan pendapat Casson (1981) bahwa kebudayaan adalah sistem arti yang
bersifat simbolik dan bahasa merupakan sistem tanda yang berfungsi sebagai simbol.
Simbol-simbol itu dapat diidentifikasi antara lain melalui kespesifikan bahasa
yang digunakan dan ritme suara yang lazim dilantunkan. Sebagai contoh, simbol
seperti tersirat dalam larik tembang macapat karya Ranggawarsita dalam Sêrat
Kalatidha berikut ini:
Amênangi jaman edan,
|
Menyaksikan zaman edan
|
ewuh âyâ ing pambudi
|
serba salah dalam menyiasati
|
mèlu edan nora tahan
|
ikut gila tidak tahan
|
yèn tan mèlu anglakoni
|
kalau tidak ikut melakukan
|
boyâ kaduman melik
|
tidak akan kebagian
|
kalirên wêkasanipun
|
kelaparan akhirnya
|
dilalah karsâ Allah
|
kalau sudah dikehendaki Allah
|
begjâ-begjane kang lali
|
seberuntung apa pun yang lupa daratan
|
luwih begjâ kang eling lawan waspâdâ
|
lebih
beruntung yang sadar diri dan “waspada.’
|
Dalam salah
satu bait dari Sêrat Kalatidha5 di atas mengandung pepatah dan piwulang
yang ditujukan kepada anggota masyarakat yang mengenalnya dan menjadi
pemilik budayanya. Piwulang ‘ajaran, pendidikan’ yang terkandung dalam
bait (pâdâ6) itu disampaikan dalam simbol bahasa yang menyiratkan makna
konteks yang mengacu kepada pola pikir orang Jawa. Etnik Jawa diharapkan selalu
éling ‘teringat atau sadar diri akan keberadaan Tuhan’ serta waspâdâ ‘waspada’
dalam setiap perilaku hidupnya walaupun diberi kenikmatan yang memabukkan.
Orang yang eling dan waspâdâ tidak akan terseret arus keadaan
yang dialaminya. Ia senantiasa dapat mengontrol diri agar tetap berjalan di
atas rel kebenaran, kepositifan (kebaikan), laku utâmâ atau ke budi pêkêrti
luhur7 karena sadar sebagai makhluk Tuhan. Dengan demikian, orang yang
selalu berbuat eling dapat terhindar dari perbuatan yang negatif dan
mendapatkan pahala dari Allah. Karena itulah disebutkan orang itu lebih
beruntung daripada orang yang mengikuti keangkaramurkaan karena terseret arus
zaman edan. Ungkapan eling dan waspâdâ memiliki implikatur
imperatif permintaan dari penulis kepada orang agar di dalam kehidupan sehari-hari,
konsep itu selalu diingat dan dipakai sebagai peringatan apabila orang
mengalami hal-hal yang mengharuskan ia memutuskan untuk berbuat angkara murka
atau tidak.
Melihat kutipan
di atas, larik-larik dalam wacana tembang ternyata mengandung ungkapan-ungkapan
yang berhubungan dengan filsafat hidup dan menjadi pendidikan bagi orang Jawa.
Makna yang terkandung di dalamnya harus ditafsirkan sendiri oleh anggota
masyarakat. Dalam menafsirkan makna, seseorang harus memiliki skemata atau
knowledge of the world tentang sesuatu yang disasmitakan itu. Sebagai
contoh ungkapan ilmu iku tinêmune kanthi laku8 ‘ilmu itu diperoleh
dengan perbuatan prihatin’.
Diperolehnya
ilmu, menurut ungkapan di atas harus disertai laku yang secara harafiah
berarti ’perbuatan’. Pemahaman kata laku tidak hanya sampai pada makna
harafiah saja. Ada makna lain yang harus dipahami dengan cara menerapkan konsep
itu di dalam kehidupan sehari-hari. Kata laku di samping memiliki makna
dasar ’perbuatan’ yang bersifat lahiriah juga memiliki makna tambahan yang
lain, yaitu diikuti oleh adanya perbuatan yang bersifat batiniah, misalnya puasa,
berdoa atau berdzikir, dan sebagainya. Dengan cara itu, seseorang baru dapat
menemukan konsep dan implikatur dari kata laku serta memahaminya.
B. Rumusan Masalah
Pada kesempatan
ini pembahasan hanya dibatasi pada Tripâmâ, Wulangrèh, dan Kâlâtidhâ yang
masing-masing mewakili karya dari keraton Kasunanan, Mangkunegaran, dan dari
pujangga. Agar masalah dapat lebih terfokus, masalah-masalah yang dibahas dalam
pembahasan ini dirumuskan sebagai berikut.
(1) Apa urgensi pemahaman kembali kearifan lokal etnik
Jawa dalam tembang macapat?
(2) Dapatkah kearifan lokal etnik Jawa yang
terdapat dalam tembang-tembang macapat itu dimanfaatkan sebagai media
pendidikan budi pekerti luhur bangsa Indonesia?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Bahasa Dan Kebudayaan
Bahasa adalah “symbolic
meaning system” ‘bahasa adalah sistem makna yang simbolis’, begitu pula
halnya dengan kebudayaan yang dikatakan sebagai “symbolic meaning system”
(Casson, 1981:11-17). Lebih jauh ahli ini menyatakan sebagai berikut : “Like
language, it is a semiotic system in which
symbols function to communicate meaning from one mind to another. Cultural like
symbols, like linguistic symbols, encode a connection between a signifying form
and a signaled meaning”, ‘Seperti bahasa, kebudayaan adalah sistem tanda
yang merupakan simbol yang berfungsi untuk mengkomunikasikan makna dari satu
konsep pikiran ke yang lain. Simbol-simbol yang terdapat dalam kebudayaan,
seperti halnya simbol-simbol linguistik, mengkodekan hubungan antara bentuk
yang menandai dan makna yang ditandai’.
Dari pernyataan
itu tampak lebih jelas lagi bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang berfungsi sebagi
simbol dalam mengkomunikasikan makna dari seseorang kepada yang lain.
Kebudayaan juga simbol, seperti simbol bahasa, yang merupakan penanda dan petanda.
Senada dengan itu Sapir (1960:70) juga mengatakan bahwa bahasa merupakan
petunjuk yang sifatnya simbolis terhadap budaya. Jadi, bahasa sebagai hasil
kebudayaan manusia merupakan simbol makna yang diciptakan untuk keperluan
manusia dalam berkomunikasi. Halliday dan Hassan (1992:4) mengatakan bahwa
budaya sebagai seperangkat sistem semiotik, sebagai seperangkat sistem makna, yang
semuanya saling berhubungan. Bahasa sebagai salah satu dari sejumlah sistem
makna yang secara bersama-sama membentuk budaya manusia.
Secara garis
besar Levi-Strauss12 (1963:68) membedakan tiga macam pandangan mengenai hubungan
antara bahasa dan kebudayaan sebagai berikut :
(1) Bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat dianggap
sebagai refleksi dari seluruh kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
(2) Bahasa adalah bagian dari kebudayaan, atau bahasa
merupakan salah satu unsur dari kebudayaan.
(3) Bahasa merupakan kondisi kebudayaan.
2. Kearifan Lokal Dan Wujudnya
Kearifan lokal
(local wisdom, local knowledge, local genius) juga didefinisikan sebagai
pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang
berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai
masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka.
Kearifan lokal
atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan
menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu,
objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Selanjutnya dikatakan
bahwa wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal
pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap
sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Sebagai sebuah istilah wisdom sering
diartikan sebagai “kearifan/ kebijaksanaan”. Lokal secara spesifik menunjuk
pada ruang interaksi terbatas dengan sistem nilai yang terbatas pula.
Kearifan lokal
tersebut terpelihara dengan baik meskipun telah terjadi interaksi dengan dunia
luar dan mengalami akulturasi budaya denga kebudayan di luar kebudayaan mereka.
Kearifan-kearifan lokal dalam masyarakat kita dapat ditemui dalam nyayian,
pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam
perilaku sehari hari. Kearifan lokal lebih menggambarkan satu fenomena spesifik
yang biasanya akan menjadi ciri khas komunitas kelompok tersebut, misalnya alonalon
asal klakon (masyarakat Jawa Tengah), rawerawe rantas malang-malang
putung (masyarakat Jawa Timur), ikhlas kiaine manfaat ilmune, patuh gurune
barokah uripe (masyarakat pesantren), dan sebagainya.
Menurut Marsono
(2007:182) dalam masing-masing etnik Nusantara banyak terdapat kearifan lokal.
Sewaktu bangsa Nusantara belum bisa tulis menulis kearifan lokal yang memuat
amanat pembentukan budi luhur dituangkan dalam bentuk upacara-upacara
tradisional, legenda-legenda/ cerita rakyat/ dongeng, ungkapan-ungkapan, dan
relief. Setelah bangsa ini mampu tulis-menulis maka sarana yang dipakai lewat
bentuk tulis.
3. Urgensi Pemahaman Kembali Kearifan Lokal Etnik
Jawa Melalui Tembang Macapat.
Dari hasil
telaah dan pemahaman kembali terhadap tembang macapat Tripâmâ, Wulangrèh,
dan Kâlâtidhâ (selanjutnya disingkat T, W, dan K) dapat dikatakan bahwa
ketiga tembang macapat itu mengandung bermacam-macam piwulang/ ajaran
yang berkaitan dengan budi pekerti manusia hidup di dunia. Wujud piwulang itu
berupa ungkapan-ungkapan yang disisipkan di dalam tembang macapat itu.
Penggubah tembang (O1) bermaksud memberikan piwulang itu kepada para
keturunan raja, para abdi keraton, dan juga masyarakat etnik Jawa (O2).
Penyampaian
pesan berupa piwulang yang dibungkus melalui tembang itu sangat efektif,
sehingga mampu menjangkau masyarakat etnik Jawa secara luas. Dengan cara
memasyarakatkan tembang macapat di kalangan etnik Jawa, pesanpesan raja sampai
kepada O2 secara perlahan namun pasti. Masyarakat diajak nembang dengan berbagai
metrum yang berbeda. Dari kebiasaan nembang itulah pesan-pesan itu dengan tidak
disadari telah dihafal oleh masyarakat etnik Jawa dan meresap ke dalam hati
sanubari mereka.
Kemudian dalam
kehidupan sehari-hari secara otomatis melaksanakan pesan-pesan itu. Dengan
demikian O1 secara tidak langsung telah mempengaruhi O2 agar melaksanakan
pesan-pesan tersebut. Apa yang dilakukan oleh O1 dapat pula dikatakan sebagai bentuk
kearifan lokal yang dilakukan oleh O1 atau para leluhur etnik Jawa. Dikatakan
demikian karena para leluhur berusaha membentuk budi pekerti masyarakat etnik
Jawa melalui tembang. Leluhur etnik Jawa juga menciptakan tradisi yang menjadi
kebiasaan yang dilakukan oleh etnik Jawa dalam kehidupannya. Tradisi itu
dipelihara secara turun-temurun dan hingga saat ini masih dipertahnkan
keberadaannya. Dengan demikian, dapat pula dikatakan bahwa tembang macapat merupakan
sumber kearifan lokal etnik Jawa di dalam hal piwulang budi pekerti atau
watak yang patut diteladani.
Berdasarkan
telaah terhadap ketiga tembang tersebut, ditemukan kearifan lokal yang berkaitan
dengan pembentukan budi pekerti luhur etnik Jawa. Pesan itu dapat dikelompokkan
menjadi tiga jenis, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, raja/ pemimpin/
negara, dan dengan manusia lain.
Hubungan
manusia dengan alam diintegrasikan dengan ketiga hubungan tersebut. Berikut ini
pembicaraan secara singkat mengenai hal itu.
a. Piwulang yang menyangkut hubungan
manusia dengan Tuhan
Kearifan lokal
yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan yang ditemukan dalam ketiga
tembang yang dibahas tersebut antara lain agar O2 memahami kesempurnaan Tuhan.
Kesempurnaan itu terbukti dari penyebutan terhadap Tuhan seperti Hjang Agung
‘Yang Agung’ (W, 309, 516, 521, 836), Gusti Kang Murbâ ‘Tuhan Yang
Maha Menguasai’ (W, 448), Hyang Widdhi atau Allah (K,69, 99), dan
sebagainya.
Piwulang
yang lain adalah agar O2 memahami ajaran Islam beserta kitab suci
Al- Quran karena merupakan kitab yang isinya berupa tuntunan kehidupan yang
sempurna (W, 21), kalau perlu bisa dilakukan dengan cara berguru untuk
mempelajari kitab suci tersebut. Namun, tidak sembarang guru bisa dipilih,
harus ada kriteria tertentu (W, 31 – 38). Setelah itu hendaklah menjalankan
rukun Islam dan syariat agama yang lain (W,1092). Dalam menjalankan rukun Islam
itu hendaklah selalu berdzikir dan berdoa (W, 1181 – 1187). Tidak lupa pula berupaya
mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa (W, 1400 –1408) dengan cara selalu mengolah
batin (W, 81–86), selalu bersyukur dan ikhlas dalam menjalankan ibadah (1177
–1180 dan 1224 – 1225); serta jangan terlena karena hidup hanya diibaratkan mung
mampir ngombe (W, 1126 – 1132), setiap saat manusia dipanggil menghadap-Nya
karena memenuhi takdirnya ((T, 20, 40, dan 59; K, 55 –62). Selain itu, ajaran
agar O2 tidak sêmbrânâ (W, 1112 –1118) di dalam menjalankan perintah
agama.
Pendekatan diri
kepada Tuhan biasa dilakukan oleh etnik Jawa, baik melalui cara kejawen atau
agama. Jika melalui kejawen proses pendekatan diri kepada Tuhan biasanya dilakukan
dengan cara semedi ‘berdoa secara khusyuk’, nglakoni ‘meninggalkan
hal-hal yang bersifat duniawi’, atau tâpâ brâtâ ‘bertapa’ dalam suatu
tempat tertentu. Dalam agama Islam hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan
rukun Islam disertai berdoa secara khusyuk atau melakukan ritual agama Islam
secara khusus seperti shalat malam atau berdzikir. Selain itu ada empat tahap
proses pendekatan diri kepada Tuhan dengan tingkatan makin tinggi semakin memperoleh
kemungkinan untuk bisa dekat dengan Tuhan. Empat tahapan itu adalah syariat, tarekat,
hakikat, dan makrifat. Tahapan syariat adalah tahapan paling rendah, diikuti
tahapan berikutnya makin tinggi tatarannya.
Dari
pengetahuan tentang kedekatan diri dengan Tuhan itu dalam budaya Jawa muncul kearifan
lokal yang berupa ungkapan sêmbah râgâ sebagai padanan tingkat syariat, sêmbah
ciptâ padanan tahap tarekat, sêmbah jiwâ sebagai padanan hakikat, sêmbah
râsâ padanan makrifat. Sêmbah râsâ merupakan tataran tertinggi dalam
tahapan kedekatan antara manusia dengan Tuhannya. Dalam budaya Jawa tingkat
makrifat atau sêmbah râsâ dapat disamakan dengan manunggaling
Gusti-kawulâ. Ada kepercayaan di dalam sistem religi etnik Jawa bahwa
antara seseorang dengan Tuhannya bisa menyatu yang disebut manunggale
Gusti-kawulâ.
Persatuan ini diibaratkan
permata atau emas dengan tembaga yang menyatu menjadi suasa. Persatuan itu juga
harus bersih, tidak ada nafsu aluamah dan amarah, suci lahir-batin. Itu semua
harus disertai dengan kesabaran, tidak boleh tergesa-gesa atau nggege mangsa.
Kalau telaten akan tercapai kemanunggalan itu. Di dalam masyarakat etnik Jawa
kepercayaan ini saat ini masih ada dan dilakukan di dalam masyarakat etnik
Jawa, walaupun agama Islam telah mendalam di masyarakat etnik Jawa. Konsep
persatuan tersebut memiliki padanan atau disimbolkan dengan konsep curigâ
manjing warângkâ ‘keris yang masuk ke dalam wadahnya’.
b. Piwulang menyangkut hubungan manusia dengan
Raja/ Pemimpin/ Negara
Piwulang
yang berkaitan dengan hubungan manusia sebagai abdi kepada raja/ pemimpin/
negara yang ditemukan dalam ketiga tembang yang ditelaah, mencakup perilaku
agar O2 selalu menunjukkan guna, kâyâ, dan purun kepada
raja (T, 1—10); meneladani sikap nasionalisme, bela negara, dan kepahlawanan; memiliki
rasa balas budi kepada negara (T, 1 – 10, 21 – 24, 41 – 60); tidak melupakan
tanah tumpah darah (T, 31 –40) marsudi ing kotaman (T, 61 – 70); taat
hukum (W, 455 – 458); Kearifan lokal yang dapat diambil dari pengetahuan ini
adalah sikap yang harus dilakukan oleh rakyat apabila ingin mengabdi kepada
raja. Seseorang harus memiliki gunâ ‘kepandaian’. Gunâ disimbolkan
kepandaian atau kesaktian Patih Suwanda dalam memenangkan sayembara yang
diadakan oleh Raja Magada.
Kâyâ
adalah keberhasilan Patih Suwanda dalam menaklukkan raja-raja lain
dalam mengikuti sayembara, sehingga ia dapat memperoleh harta rampasan dan
upeti dari raja-raja yang ditaklukkan. Purun adalah kesetiaan Sang patih
di dalam melaksanakan tugas negara yang tanpâ pamrih, bahkan nyawanya
sebagai taruhannya. Ia hanya melaksanakan tugas sesuai dengan apa yang
ditugaskan oleh raja. Apa yang ia bawa tidak sedikitpun dikorupsi.
Jadi,
pengabdian yang total diharapkan dilakukan oleh mereka yang mengabdi. Kearifan
lokal yang dapat diperoleh dari pola berpikir di atas adalah munculnya ungkapan
sadumuk bathuk sanyari bumi, ditohi pati ‘sedikit saja dahi (wajah
istri) dipegang (dilecehkan), atau tanah sejengkal saja apabila diganggu, maka harus
dibela dengan taruhan nyawa’. Dalam pandangan etnik Jawa, (istri dan) tanah merupakan
lambang harga diri. Sebuah negara, bahkan hanya sejengkal tanah saja, harus
dibela sampai mati apabila itu diganggu atau diduduki negara (orang) lain.
Kearifan lokal
yang muncul dalam komunitas etnik Jawa berkaitan dengan hal di atas adalah
munculnya ungkapan mikul dhuwur mêndhêm jêro ‘memikul tinggi, memendam
yang dalam’. Ungkapan ini mengandung maksud agar O2 menghormati orang tuanya/
leluhur/ pemimpin setinggi-tingginya dan menghargainya. Dengan demikian O2
telah melakukan laku utâmâ . Sikap ini merupakan kewajiban yang harus
dilakukan oleh seorang anak atau generasi muda kepada orang tua/ leluhur/
pemimpin yang telah memberikan segala keperluan kita.
Temuan lain
yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan raja/ pemimpin/ negara adalah
agar O2 sebagai seorang abdi negara hendaklah gemi , nastiti ‘cermat’,
dan ngati-ati ‘hati-hati’ (W, 499 – 502); bersikap mantep ‘teguh’
dan setya tuhu ’loyal’ terhadap raja (W, 511 – 515); mematuhi semua
perintah raja (W,516 – 520, dan 556 – 560); melaksanakan kewajiban sesuai
tugasnya (W, 562 – 570); menghormati (menyembah) raja, karena raja merupakan
wakil Tuhan (W, 516 – 520); ikhlas lahir-batin (W, 521 – 525); seorang perwira bersikap
ksatria, santun, dan teliti dalam berperilaku (W, 937 – 941); menerima dan menikmati
semua pemberian raja (W, 965 – 976); meniru hal yang positif dari raja W, 1562,
1566, 1568, 1573 – 1575, 1656, 1669, 1674, 1682, 1685).
c. Piwulang menyangkut hubungan manusia
dengan manusia lain
Piwulang
yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia lain yang ditemukan
dalam ketiga tembang yang dianalisis, dapat dkelompokkan menjadi dua, yaitu
yang berupa permintaan dan yang berupa larangan. Yang berupa permintaan adalah
hendaklah menjaga keprofesionalan (W, 71 – 80); berusaha keras dalam meraih
cita-cita (W, 81 – 86); agar selektif dalam berteman (W, 95 – 98); agar menghormati, patuh, selalu mengingat ajaran orang
tua/ leluhur, dan berperilaku baik(W, 166 – 171); tabêri ‘rajin dan
teliti’ (W, 142 –147); meniru ajaran yang benar walaupun datangnya dari kaum
sudra (W, 182 –186); rèrèh ‘sabar’, ririh ‘halus, lembut’,
ngati-ati ‘hati-hati’, atau cermat (W, 213 – 216); dapat mempertimbangkan yang
baik dan yang buruk, adat dan tatanan, tata krama (sopan santun), serta
musyawarah untuk perkara yang kecil maupun besar (W, 257 – 263); mengenali
watak manusia (W, 284 – 295); melakukan sêmbah limâ W, 403 – 414); mengurangi
makan, tidur, dan nafsu yang membara (W, 601 – 607); menyadari bahwa benar-salah,
baik-buruk, untung-celaka disebabkaan oleh ulah sendiri (W,615 – 621); hati-hati
berbicara (W, 697 – 708); satu saudara kandung bersatu dan tidak individual (W,
516 – 522); tidak pilih kasih (W, 871 – 874); saling menghormati dan saling
menghargai (W, 875 – 878); tahu asal-usul (W, 977 – 982); senang menimba ilmu
atau belajar tekun (W, 1067 – 1072); selalu bertakwa (W, 1091 – 1097); bersikap
narimâ ‘menerima’ (W, 953 – 958); banyak mendengarkan atau membaca
cerita dan senang nembang (W, 1266 – 1272); berbudi pekerti luhur
(W,1436 – 1444); berhati-hati menentukan sikap (W, 1381 – 1390); generasi muda
lebih baik daripada pendahulunya (W, 1658 – 1665); mencari kesempurnaan hidup
(W, 1730 – 1737); mendoakan keturunannya (W, 1666 – 1673); mawas diri (K, 72 –
80).
Yang berupa
larangan adalah agar O2 tidak berlebihan tidur dan makan (W, 87 – 92); tidak sombong,
angkuh, dan congkak (W, 93 – 94); tidak banyak bicara (W, 153 – 158); tidak kêpatuh
(W, 171 – 175); tidak suka disanjung dan disuap maupun menyuap (W,
226 – 235); tidak suka mengobral janji (W, 246 – 250); tidak dekat orang yang
bersikap dêgsurâ (W, 277 – 283); tidak bersikap drêngki, srèi, dorâ,
irèn, mèrèn, panastèn, kumingsun, jail, mutakil, dan basiwit (W, 312 –
318); tidak bersikap lunyu, lèmèr(an), genjah, angrong
prasanakan, nyumur gumuling, dan ambuntut arit (W, 347 –
353); tidak mengikuti ajaran yang diberikan oleh orang tua atau saudara jika
dirasa hal itu tidak baik (W, 379 – 386); tidak berani kepada orang tua (W, 395
– 398); tidak melakukan tiga hal, yaitu nggunggung ‘menyanjung’, nacat
‘mencacat orang lain’, dan maoni ‘tidak mempercayai semua orang’ (W,
625– 629); tidak suka ngrasani (W, 678 – 684); tidak mengumpat
atau berkatakata kotor (W, 709 – 714); jangan mengambil janda saudara, abdi,
dan teman bekerja (W, 721 – 726); jangan mengonsumsi opium atau narkoba, bertaruh,
menjadi penjahat, dan berhati saudagar, dan pemabok (W, 739 – 744); tidak
bergaul dengan wanita yang buruk tabiatnya, serta tidak membuka rahasia di
depan wanita (W, 829 – 834); tidak angkuh, bêngis, lêngus, lanas, calak, lancang,
langar, ladak, sumalonong, ngidak, ngêpak, dan siyâ-siyâ (W, 1133 –
1139); tidak sêmbrânâ ‘teledor’, bersikap tidak menerima, tidak mudah
bosan berdialog dengan orang tua (W, 1161 – 1167); tidak mengabaikan wulang (W,
1594 – 1601).
Ungkapan-ungkapan
yang disisipkan dalam tembang macapat dalam hal berhubungan antara manusia
dengan manusia yang lain atau antara masyarakat yang satu dengan masyarakaat yang
lain di atas merupakan ajaran yang disampaikan O1 kepada O2. Isi ajaran
tersebut ada yang berupa sebuah permintaan dan ada pula yang berupa larangan. Permintaan tersebut
pada umumnya berupa permintaan dari O1 kepada O2 agar melakukannya, sedangkan
yang berupa ajaran mengenai perilaku buruk berupa larangan agar O2 tidak
melakukannya. Semua ajaran itu menjadi kearifan lokal etnik Jawa yang hidup dan
menjadi tradisi bagi etnik Jawa sampai saat ini.
Berdasarkan
telaah terhadap ketiga tembang di atas dapat dikatakan bahwa pemanfaatan kembali terhadap kearifan
lokal etnik Jawa yang terdapat dalam tembang macapat sangat urgen jika
dikaitkan dengan upaya pembentukan budi pekerti luhur bangsa Indonesia.
4. Pemanfaatan Tembang Macapat sebagai Media
Pendidikan Budi Pekerti Luhur
Bangsa
Indonesia Berdasarkan pembahasan tentang tembang macapat Tripâmâ, Wulangrèh,
dan Kâlâtidhâ sebagai sumber kearifan lokal bagi etnik Jawa diketahui
bahwa ketiga tembang itu berisi pendidikan, piwulang, atau ajaran.
Adapun ajaran itu berisi hal-hal yang menyangkut budi pekerti luhur yang
berkaitan dengan budi pekerti manusia yang meliputi sikap nasionalisme, kepahlawanan,
agama, etika, moral, dan perilaku hidup seharihari, serta perilaku dalam
pemerintahan. Ajaran itu tidak hanya mengenai hal-hal yang baik, namun juga
mencakup hal-hal yang buruk.
Keduanya
diajarkan agar O2 dapat membedakan budi pekerti yang baik dan sifat-sifat
buruk. Pendidikan yang baik wajib diteladani, sedangkan sifat-sifat yang buruk
ditinggalkan dan disimpan sebagai pengetahuan jika suatu saat menghadapi hal
yang buruk itu. Ungkapan-ungkapan yang ada di dalam tembang itu merupakan
kearifan lokal dan kekayaan kebudayaan yang dimiliki etnik Jawa.
Ungkapan-ungkapan
yang diidentifikasi sebagai ajaran tentang budi pekerti itu selanjutnya menjadi
pola pikir dan pandangan hidup etnik Jawa yang terselip di dalam larik-larik
tembang. Penyebaran ke berbagai komunitas etnik Jawa itu terjadi melalui
nyanyian yang sering dilakukan oleh masyarakat etnik Jawa. Dengan cara
menyanyikan mereka akhirnya hafal ungkapan-ungkapan yang terdapat di dalam tembang
itu. Dengan menyanyikan tembang itu mereka juga tidak sadar telah merefleksi
makna ungkapan-ungkapan yang ada di dalam tembang itu.
Dengan demikian
akhirnya ungkapan-ungkapan itu lalu menjadi kearifan lokal yang dimiliki oleh
etnik Jawa. Ungkapan-ungkapan itu dikatakan sebagai kearifan lokal etnik Jawa
karena hanya etnik Jawa saja yang memahami makna atau sasmita dari ungkapan-ungkapan
melalui proses refleksi dalam kurun waktu yang lama. Dari ungkapan yang ada di
dalam tembang kemudian etnik Jawa melengkapi dengan ungkapan-ungkapan lain yang
diciptakan untuk menghadapi permasalahan-permasalah yang muncul di dalam
kehidupan sehari-hari.
Ungkapan lain
itu merupakan ungkapanungkapan yang mengandung daya sugesti bagi etnik Jawa,
sehingga etnik Jawa mampu keluar dari permasalahan yang dihadapi. Sebagai contoh:
ada ungkapan adiguna, adigang, adigung menyebabkan munculnya ungkapan aja
dumeh sebagai langkah untuk menanggulangi agar orang tidak melakukan
perbuatan adiguna, adigang, adigung.
Dari uraian di
atas disimpulkan bahwa dalam ketiga wacana tembang macapat itu terkandung
konsep pemikiran atau cara memandang masyarakat etnik Jawa terhadap Tuhan,
negara/ raja, dan manusia lain. Konsep itu lalu dituangkan dalam bentuk tulisan
yang berupa tembang macapat. Setelah itu, tembang beredar di masyarakat etnik
Jawa dan apa yang tertulis di dalam larik-larik itu menjadi sistem kognisi atau
sistem pengetahuan bagi etnik Jawa.
Sistem
pengetahuan yang berupa cara pandang etnik Jawa itu dapat dipahami oleh etnik
Jawa secara turun-temurun dan direfleksi secara tidak langsung melalui nyanyian
dalam kurun waktu yang lama. Pengetahuan ini kemudian menjadi strategi
kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan masyarakat etnik Jawa dalam menyelesaikan
berbagai persoalan atau masalah yang muncul di kalangan mereka.
Dengan demikian
ungkapan-ungkapan itu telah menjadi kearifan lokal dan kekayaan kebudayaan bagi
etnik Jawa dan dimiliki secara turun-temurun. Cara menanamkan ungkapan-ungkapan
yang mengandung pendidikan, piwulang, atau ajaran kepada generasi
selanjutnya melalui tembang dan tulisan itu sangat baik dilestarikan karena
dengan tembang pesan-pesan mudah masuk ke dalam hati sanubari. Walaupun ada pula
ungkapan-ungkapan yang saat ini tidak relevan karena kemajuan zaman, namun
kearifan ini perlu pula dipakai sebagai model bagi penanaman dan pengembangan
budi pekerti luhur bagi generasi muda.
Beberapa contoh
tembang macapat dapat penulis sampaikan antara lain:
1. Tembang Macapat Pocung
Pocung
merupakan salah satu dari 12 puisi jawa tembang macapat yang paling sederhana.
Pucung biasanya disebut juga dengan pocung. Pocung adalah tetembangan yang
digunakan untuk mengingat akan kematian, karena mirip dengan kata pocong yang
memiliki arti sebagai pembungkus mayat akan dikubur.
Pocung juga
memiliki arti woh-wohan atau dalam bahasa Indonesianya adalah buah-buahan yang
memberi kesegaran. Kata cung sendiri ialan mengingatkan pada kuncung
yang lucu, sehingga perkembangan dari tembang ini merujuk pada sesuatu yang
lucu, parikan atau badhekan (tebak-tebakan).
Ngelmu
iku kalakone kanthi laku
(Ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan)
Lekase lawan kas
(Dimulai dengan kemauan)
Tegese kas nyantosani
(Artinya kemauan yang menguatkan)
Setya budaya pangekese dur angkara
(Ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan)
(Ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan)
Lekase lawan kas
(Dimulai dengan kemauan)
Tegese kas nyantosani
(Artinya kemauan yang menguatkan)
Setya budaya pangekese dur angkara
(Ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan)
Angkara
gung neng angga anggung gumulung
(Kejahatan besar di dalam tubuh kuat menggelora)
Gegolonganira
(Menyatu dengan diri sendiri)
Triloka lekeri kongsi
(Menjangkau hingga tiga dunia)
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
(Jika dibiarkan akan berkembang menjadi bencana)
(Kejahatan besar di dalam tubuh kuat menggelora)
Gegolonganira
(Menyatu dengan diri sendiri)
Triloka lekeri kongsi
(Menjangkau hingga tiga dunia)
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
(Jika dibiarkan akan berkembang menjadi bencana)
Beda
lamun kang wus sengsem reh ngasamun
(Tetapi berbeda dengan yang sudah suka menyepi)
Semune ngaksama
(Tampak sifat pemaaf)
Sasamane bangsa sisip
(Antar manusia yang penuh salah)
Sarwa sareh saking mardi martatama
(Selalu sabar dengan jalan mengutamakan sikap rendah hati)
(Tetapi berbeda dengan yang sudah suka menyepi)
Semune ngaksama
(Tampak sifat pemaaf)
Sasamane bangsa sisip
(Antar manusia yang penuh salah)
Sarwa sareh saking mardi martatama
(Selalu sabar dengan jalan mengutamakan sikap rendah hati)
Taman
limut durgameng tyas kang weh limput
(Dalam kabut kegelapan, angkara dihati yang selalu menghalangi)
Karem ing karamat
(Larut dalam kesakralan hidup)
Karana karoban ing sih
(Karena temggelam dalam kasih sayang)
Sihing sukma ngrebda saardi pengira
(Kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung)
(Dalam kabut kegelapan, angkara dihati yang selalu menghalangi)
Karem ing karamat
(Larut dalam kesakralan hidup)
Karana karoban ing sih
(Karena temggelam dalam kasih sayang)
Sihing sukma ngrebda saardi pengira
(Kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung)
Yeku
patut tinulat tulat tinurut
(Sebenarnya itulah yang pantas dilihat, dicontoh dan patut diikuti)
Sapituduhira
(Sebagai nasehatku)
Aja kaya jaman mangkin
(Jangan seperti zaman nanti)
Keh pra mudha mundhi diri Rapal makna
(Banyak anak muda menyombongkan diri dengan hafalan arti)
(Sebenarnya itulah yang pantas dilihat, dicontoh dan patut diikuti)
Sapituduhira
(Sebagai nasehatku)
Aja kaya jaman mangkin
(Jangan seperti zaman nanti)
Keh pra mudha mundhi diri Rapal makna
(Banyak anak muda menyombongkan diri dengan hafalan arti)
Durung becus
kesusu selak besus
(Belum mumpuni tergesa-gesa untuk berceramah)
Amaknani rapal
(Mengartikan hafalan)
Kaya sayid weton mesir
(Seperti sayid dari Mesir)
Pendhak pendhak angendhak Gunaning jalma
(Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain)
(Belum mumpuni tergesa-gesa untuk berceramah)
Amaknani rapal
(Mengartikan hafalan)
Kaya sayid weton mesir
(Seperti sayid dari Mesir)
Pendhak pendhak angendhak Gunaning jalma
(Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain)
2.
Tembang Macapat Gambuh
Tembang macapat
gambuh adalah salah satu tembang yang mengajarkan tentang berbagai macam ajaran
kepada generasi muda, terkhusus iala tentang mengenai bagaiman cara menjalin
hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya.
Banyak juga
yang menafsirkan bahwa kata gaambuh memiliki arti sebuah kecocokan, sepaham dan
sikap kebijaksaan. Sikap bijaksana tersebtu memiliki arti bahwa dapat
menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai takarannya, dan dapat bersikap adil.
Nasihat-nasihat
tentang betapa pentingnya membangun rasa persaudaraan, toleransi dan kebersaman
sebagai mahluk sosial banyak tergambar dari tembang-tembang macapat gambuh.
Sekar
gambuh ping catur,
(Tembang gambuh keempat)
Kang cinatur polah kang kalantur,
(Yang dibicarakan tentang perilaku yang kebablasan)
Tanpa tutur katula-tula katali,
(Tanpa nasihat terjerat penderitaan)
Kadaluwarsa kapatuh,
(Terlanjur menjadi kebiasaan)
Kapatuh pan dadi awon.
(Kebiasaan bisa berakibat buruk)
(Tembang gambuh keempat)
Kang cinatur polah kang kalantur,
(Yang dibicarakan tentang perilaku yang kebablasan)
Tanpa tutur katula-tula katali,
(Tanpa nasihat terjerat penderitaan)
Kadaluwarsa kapatuh,
(Terlanjur menjadi kebiasaan)
Kapatuh pan dadi awon.
(Kebiasaan bisa berakibat buruk)
Aja
nganti kabanjur,
(Jangan sampai terlanjur)
Barang polah ingkang nora jujur,
(Bertingkah polah yang tidak jujur)
Yen kebanjur sayekti kojur tan becik,
(Jika telanjur tentu akan celaka dan tidak baik)
Becik ngupayaa iku,
(Lebih baik berusahalah)
Pitutur ingkang sayektos.
([menngikuti] ajaran yang sejati)
(Jangan sampai terlanjur)
Barang polah ingkang nora jujur,
(Bertingkah polah yang tidak jujur)
Yen kebanjur sayekti kojur tan becik,
(Jika telanjur tentu akan celaka dan tidak baik)
Becik ngupayaa iku,
(Lebih baik berusahalah)
Pitutur ingkang sayektos.
([menngikuti] ajaran yang sejati)
Tutur
bener puniku,
(Ucapan yang benar itu)
Sayektine apantes tiniru,
(Sejatnya pantas untuk diikuti)
Nadyan metu saking wong sudra papeki,
(Meskipun keluar dari orang yang rendah derajatnya)
Lamun becik nggone muruk,
(Jika baik dalam mengajarkan)
Iku pantes sira anggo.
(Itu pantas kau pakai)
(Ucapan yang benar itu)
Sayektine apantes tiniru,
(Sejatnya pantas untuk diikuti)
Nadyan metu saking wong sudra papeki,
(Meskipun keluar dari orang yang rendah derajatnya)
Lamun becik nggone muruk,
(Jika baik dalam mengajarkan)
Iku pantes sira anggo.
(Itu pantas kau pakai)
Ana
pocapanipun,
(Ada sebuah ungkapan)
Adiguna adigang adigung,
(Adiguna, adigang, adigung)
Pan adigang kidang adigung pan esthi,
(Seperti Adigang-nya kijang, adigung-nya gajah)
Adiguna ula iku,
(Adiguna-nya ular)
Telu pisan mati sampyoh.
(Ketiganya mati bersama dengan sia-sia)
(Ada sebuah ungkapan)
Adiguna adigang adigung,
(Adiguna, adigang, adigung)
Pan adigang kidang adigung pan esthi,
(Seperti Adigang-nya kijang, adigung-nya gajah)
Adiguna ula iku,
(Adiguna-nya ular)
Telu pisan mati sampyoh.
(Ketiganya mati bersama dengan sia-sia)
Si
kidang ambegipun,
(Si kijang memiliki watak)
Angandelaken kebat lumpatipun,
(Menyombongkan kecepatannya melompat/berlari)
Pan si gajah angandelken gung ainggil
(Si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar)
Ula ngandelaken iku,
(Ular menyombongkan)
Mandine kalamun nyakot.
(Keampuhannya dengan menggigit)
(Si kijang memiliki watak)
Angandelaken kebat lumpatipun,
(Menyombongkan kecepatannya melompat/berlari)
Pan si gajah angandelken gung ainggil
(Si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar)
Ula ngandelaken iku,
(Ular menyombongkan)
Mandine kalamun nyakot.
(Keampuhannya dengan menggigit)
Iku
upamanipun,
(Itu sebuah perumpamaan)
Aja ngandelaken sira iku,
(Jangan menyombongkan diri)
Suteng nata iya sapa kumawani,
(Seorang raja siapa yang berani)
Iku ambeke wong digang,
(Itu perilaku yang adigang)
Ing wasana dadi asor.
(Yang akhirnya bisa merendahkan)
(Itu sebuah perumpamaan)
Aja ngandelaken sira iku,
(Jangan menyombongkan diri)
Suteng nata iya sapa kumawani,
(Seorang raja siapa yang berani)
Iku ambeke wong digang,
(Itu perilaku yang adigang)
Ing wasana dadi asor.
(Yang akhirnya bisa merendahkan)
Adiguna
puniku,
(Watak adiguna adalah)
Ngandelaken kapinteranipun,
(Menyombongakan kepandaiannya)
Samubarang kabisan dipundheweki,
(Seolah semua bisa dilakukan sendiri)
Sapa bisa kaya ingsun,
(Siapa yang bisa seperti aku)
Togging prana nora enjoh.
(ujung-ujungnya tak bisa apa-apa)
(Watak adiguna adalah)
Ngandelaken kapinteranipun,
(Menyombongakan kepandaiannya)
Samubarang kabisan dipundheweki,
(Seolah semua bisa dilakukan sendiri)
Sapa bisa kaya ingsun,
(Siapa yang bisa seperti aku)
Togging prana nora enjoh.
(ujung-ujungnya tak bisa apa-apa)
Ambek
adigung iku,
(Watak orang adigung adalah)
Angungasaken ing kasuranipun,
(Menyombongkan keperkasaannya)
Para tantang candhala anyenyampahi,
(Semua ditantang berkelahi dan disepelekan)
Tinemenan nora pecus,
(Jika benar dihadapi, ia tak berdaya)
Satemah dadi geguyon.
(Akhirnya hanya jadi bahan tertawaan)
(Watak orang adigung adalah)
Angungasaken ing kasuranipun,
(Menyombongkan keperkasaannya)
Para tantang candhala anyenyampahi,
(Semua ditantang berkelahi dan disepelekan)
Tinemenan nora pecus,
(Jika benar dihadapi, ia tak berdaya)
Satemah dadi geguyon.
(Akhirnya hanya jadi bahan tertawaan)
Ing
wong urip puniku
(Dalam kehidupan manusia)
Aja nganggo ambek kang tetelu,
(Jangan sampai memiliki watak ketiga tadi)
Anganggowa rereh ririh ngati-ati,
(Milikilah sifat sabar, cermat, dan berhati-hati)
Den kawangwang barang laku,
(Selalu introspeksi pada tingkah laku)
Kang waskitha solahing wong.
(Pandailah membaca perilaku orang lain)
(Dalam kehidupan manusia)
Aja nganggo ambek kang tetelu,
(Jangan sampai memiliki watak ketiga tadi)
Anganggowa rereh ririh ngati-ati,
(Milikilah sifat sabar, cermat, dan berhati-hati)
Den kawangwang barang laku,
(Selalu introspeksi pada tingkah laku)
Kang waskitha solahing wong.
(Pandailah membaca perilaku orang lain)
3.
Tembang Macapat Pangkur
Pangkur sendiri
memiliki arti berari mungkur jika diartikan dalam bahasa indonesia adalah
mundur atau mengundurkan diri. Merupakan sebuah gambaran manusia yang memiliki
fase dimana akan mulai mundur dari kehidupan ragawi dan menuju kehidupan jiwa
atau spritual.
Pangkur atau
mangkur juga memiliki arti menyingkir yang ditafsirkan adalah menyingkirkan
hawa nafsu angkara murka, nafsu negatif yang menggerogoti jiwa. Menyingkirkan
nafsu angkara murka dunia, dibuthkan riyadhah atau upaya yang bersungguh-sunguh
dan khususnya di bulan Ramadhan, ketika itu harus benar-benar memaksimalkan
ibadah agar dapat meminimalisir dan mereduksi nafsu-nafsu angkara yang telah
menggerogoti dinding kalbu kita.
Mingkar-mingkuring
ukara
(Membolak-balikkan kata)
Akarana karenan mardi siwi
(Karena hendak mendidik anak)
Sinawung resmining kidung
(Tersirat dalam indahnya tembang)
Sinuba sinukarta
(Dihias penuh warna )
Mrih kretarta pakartining ilmu luhung
(Agar menjiwai hakekat ilmu luhur)
Kang tumrap ing tanah Jawa
(Yang ada di tanah Jawa/nusantara)
Agama ageming aji.
(Agama “pakaian” diri)
(Membolak-balikkan kata)
Akarana karenan mardi siwi
(Karena hendak mendidik anak)
Sinawung resmining kidung
(Tersirat dalam indahnya tembang)
Sinuba sinukarta
(Dihias penuh warna )
Mrih kretarta pakartining ilmu luhung
(Agar menjiwai hakekat ilmu luhur)
Kang tumrap ing tanah Jawa
(Yang ada di tanah Jawa/nusantara)
Agama ageming aji.
(Agama “pakaian” diri)
4.
Tembang Macapat Sinom
Kata sinom yang
memiliki arti pucuk yang baru bersemi dan tumbuh. Tembang sinom sendiri
memiliki filosofi yang menggambarkan seorang manusia tengah beranjak dewasa dan
menjadi seorang pemuda atau remaja yang sedang bersemi. Saat menjadi dewasa
seorang remaja, memiliki tugas wajib ialah untuk menuntut ilmu sebaik mungkin
agar dapat menjadi bekal kehidupannya kelak dimasa depan.
Tembang macapat
sinom mengkisahkan tahapan manusia pada puberitas. Masa tersebut merupakan masa
ketika seorang anak akan mengalami perubahan fisik, psikis dan pematangan dari
fungsi seksual.
Masa puberitas pada kehidupan biasanya dimulai ketika berumur delapan sampai sepuluh tahun dan berakhir kurang lebih di usia 15 sampai 16 tahun.
Masa puberitas pada kehidupan biasanya dimulai ketika berumur delapan sampai sepuluh tahun dan berakhir kurang lebih di usia 15 sampai 16 tahun.
Hal tersebut yang dimaksud dengan
pengertian puber atau pengertian pebuertias. Dalam bentuk perubahan psikologis
anak pada masa puber berusaha mencari jati diri untuk memenuhi rasa ingin
tahunya yang sangat besar.
Dalam proses
mencari jati diri, seringya remaja menentang kemapanan karena merasa hal
tersebut membelenggu kebebasannya. Mereka tidak ingin disebut sebagai anak-anak
lagi. Hal yang sangat umum terjadi dalam puberitas adalah ketertarikannya
terhadap lawan jenis. Timbulnya rasa tersebut biasanya disebut dengan sebutan
“cinta monyet” ialah hubungan asmara yang bersifat sementara dan tidak bertahan
lama serta cepat menghilang.
Nulada laku
utama
(Mencontohlah perilaku yang utama)
Tumrape wong tanah Jawi
(Bagi orang di tanah Jawa)
Wong agung ing Ngeksiganda
(Orang besar dari Ngeksiganda/Mataram)
Panembahan Senopati
(Panembahan Senopati)
Kepati amarsudi
(Sangat tekun berusaha)
Sudane hawa lan nepsu
(Mengurangi hawa nafsu)
Pinepsu tapa brata
(Dengan cara laku prihatin/bertapa)
Tanapi ing siyang ratri
(yang dilakukan siang dan malam)
Amamangun karyenak tyasing sesami
(Berkarya membangun ketenteraman hati sesama)
(Mencontohlah perilaku yang utama)
Tumrape wong tanah Jawi
(Bagi orang di tanah Jawa)
Wong agung ing Ngeksiganda
(Orang besar dari Ngeksiganda/Mataram)
Panembahan Senopati
(Panembahan Senopati)
Kepati amarsudi
(Sangat tekun berusaha)
Sudane hawa lan nepsu
(Mengurangi hawa nafsu)
Pinepsu tapa brata
(Dengan cara laku prihatin/bertapa)
Tanapi ing siyang ratri
(yang dilakukan siang dan malam)
Amamangun karyenak tyasing sesami
(Berkarya membangun ketenteraman hati sesama)
5.
Tembang Macapat Kinanthi
Kinanthi
berasal dari kata kanthi atau tuntunan. Seorang anak yang tumbuh dan berkembang
membutuhkan tuntunan dari orang dewasa. Mereka tidak bisa dibiarkan tumbuh
begitu saja, oleh karena itu mereka membutuhkan bimbingan atau tuntunan baik
dari orang dewasa maupun orang tua yang memiliki pengalamn dan pengetahuan
lebih.
Menurut pendapat John Locke dalam teori “Tabula Rasa” (bahasa latin) yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah kertas kosong.
Menurut pendapat John Locke dalam teori “Tabula Rasa” (bahasa latin) yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah kertas kosong.
Memiliki
pandangan bahwa seroang manusia lahir bagaikan kertas putih kosong tidak
mempunyai mental bawaan. Pembentuk kepribadian, perilaku sosial dan emosional,
serta kecerdasan yang diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan
persepsinya alata indera terhadap dunia diluar dari dirinya sendiri.
Meskipun tidak
semuanya benar, dengan rujukan teori tersebut maka seorang anak yang sedang
tumbuh membutuhkan bimbingan supaya kelak nanti menjadi manusia dewasa yang
dapat dibanggakan. Anak-anak harus mempunyai pendidikan tinggi agar memiliki
kecerdasan dan pengetahuan yang cukup.
Anak-anak perlu
diberi pelatihan agar kelak nanti mempunyai keterampilan untuk menjadi kreatif
dan mandiri dan sangat penting anak-anak harus diajarkan keimanan serta
ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut harus melalui bimbingan dari
kinanthi atau orang dewasa/orang tua.
Anoman
malumpat sampun (8u)
Prapteng witing nagasari (8i)
Mulat mangandhap katingal (8a)
Wanodya yu kuru aking (8i)
Gelung rusak wor lan kisma (8a)
Kang iga-iga kaeksi (8i)
Prapteng witing nagasari (8i)
Mulat mangandhap katingal (8a)
Wanodya yu kuru aking (8i)
Gelung rusak wor lan kisma (8a)
Kang iga-iga kaeksi (8i)
Kagyat risang kapirangu
Rinangkul kinempi-kempit
Duh sang retnaning bawana
Ya ki tukang walang ati
Ya ki tukang ngenes ing tyas
Ya ki tukang kudu gering
Rinangkul kinempi-kempit
Duh sang retnaning bawana
Ya ki tukang walang ati
Ya ki tukang ngenes ing tyas
Ya ki tukang kudu gering
6.
Tembang Macapat Dhandhanggulo
Tembang macapat
dhangdanggula mempunyai arti harapan yang indah, kata dhangdanggula sendiri
dipercaya berasal dari kata gegadhangan yang mempunyai arti bercita-cita,
angan-angan atau harapan dan dari kata gula yang memiliki makna manis, indah
atau bahagia. Tidak hanya memiliki arti harapan yang indah saja, namun banyak
kalangan juga yang menafsirkan dhangdanggula berasal dari kata dhangdang yang
berarti burung gagak sebagai lambang duka, serta berasal dari kata gula yang
terasa manis sebagai lamban kesukaan.
Kebahagiaan
yang dapat tercapai setelah sebuah pasangan bisa melampaui proses suka duka
dalam berumah tangga sehingga akan tercapai cita-citanya, seperti cukup
sandang, papan dan pangan. Seperti seseorang yang sedang menemukan kebahagiaan
bisa diibaratkan lagunya dandanggula.
Lamun sira
ameguru kaki
(Jika engkau meminta nasehat dariku)
Amiliha manungsa sanyata
(Pilihlah manusia sejati)
Ingkang becik martabate
(Yang baik martabatnya)
Sarta weruh ing ukum
(Serta mengenal hukum)
Kang ibadah lan kang wirangi
(Yang taat beribadah dan menjalankan ajaran agama)
Sukur oleh wong tapa ingkang wus amungkul
(Apalagi mendapat orang suka perihatin yang sudah mumpuni)
Tan gumantung liyan
(Yang tak tergantung orang lain)
Iku wajib guronana kaki
(Kepadanyalah engkau wajib berguru)
Sartane kawruhanana
(Serta belajar padanya)
(Jika engkau meminta nasehat dariku)
Amiliha manungsa sanyata
(Pilihlah manusia sejati)
Ingkang becik martabate
(Yang baik martabatnya)
Sarta weruh ing ukum
(Serta mengenal hukum)
Kang ibadah lan kang wirangi
(Yang taat beribadah dan menjalankan ajaran agama)
Sukur oleh wong tapa ingkang wus amungkul
(Apalagi mendapat orang suka perihatin yang sudah mumpuni)
Tan gumantung liyan
(Yang tak tergantung orang lain)
Iku wajib guronana kaki
(Kepadanyalah engkau wajib berguru)
Sartane kawruhanana
(Serta belajar padanya)
7. Tembang Macapat Asmaradana
Asmaradana
bermakna asmara dan dahana yang memiliki api asmara. Tembang tersebut
menggambarkan masa-masa dirundung asmara, dimabuk, cinta, ditenggelamkan dalam
lautan kasih. Asmara mempunyai arti cinta dan cinta merupakan sebuah ketulusan
hati, meminjam istilahnya salah seorang penyanyi Pop Balad Ebiet G.Ade dalam
sebuah lirik lagunya “Cinta yang kuberi setulus hatiku entah apa yang kuterima
aku tak peduli”.
Cinta merupakan
anugerah terindah dari Pangeran Gusti Allah dan hal tersebut adalah sebuah
bukti keagungannya. “Waja’alna Bainakum Mawwaddah Wa Rahmah, Inna Fi Dzaalika
La’aayatil Liqoumi Yatafakkaruun”. Artinya “…Dan Kujadikan diantara kalian
Cinta dan Kasih Sayang, sesungguhnya didalamnya merupakan tanda-tanda
(Ke-Agungan-Ku) bagi kaum yang berfikir”.
Gegaraning
wong akrami
(penguat dalam pernikahan)
Dudu bandha dudu rupa
(bukan harta atau fisik)
Amung ati pawitané
(tetapi hatilah modal utamanya)
Luput pisan kena pisan
(sekali jadi, jadi selamanya)
Lamun gampang luwih gampang
(jika mudah, semakin gampang)
Lamun angèl, angèl kalangkung
(jika sulit, sulitnya bukan main)
Tan kena tinumbas arta
(tak bisa ditebus dengan harta)
(penguat dalam pernikahan)
Dudu bandha dudu rupa
(bukan harta atau fisik)
Amung ati pawitané
(tetapi hatilah modal utamanya)
Luput pisan kena pisan
(sekali jadi, jadi selamanya)
Lamun gampang luwih gampang
(jika mudah, semakin gampang)
Lamun angèl, angèl kalangkung
(jika sulit, sulitnya bukan main)
Tan kena tinumbas arta
(tak bisa ditebus dengan harta)
Aja turu soré
kaki
(jangan tidur terlalu awal)
Ana Déwa nganglang jagad
(ada dewa yang mengelilingi alam raya)
Nyangking bokor kencanané
(menenteng bokor emasnya)
Isine donga tetulak
(yang berisi doa penolak bala)
Sandhang kelawan pangan
(sandang dan pangan)
Yaiku bagéyanipun
(yaitu bagian untuk)
wong melek sabar narima
(orang yang suka tirakat malam, sabar dan menerima)
(jangan tidur terlalu awal)
Ana Déwa nganglang jagad
(ada dewa yang mengelilingi alam raya)
Nyangking bokor kencanané
(menenteng bokor emasnya)
Isine donga tetulak
(yang berisi doa penolak bala)
Sandhang kelawan pangan
(sandang dan pangan)
Yaiku bagéyanipun
(yaitu bagian untuk)
wong melek sabar narima
(orang yang suka tirakat malam, sabar dan menerima)
8. Tembang Macapat Mijil
Tembang macapat
mijil menceritakan tentang awal mula hadirnya manusia di dunia ini yang mana
merupakan lahirnya seorang anak terlahir dari gua garba Ibu. Istilah lain mijil
dalam bahasa Jawa adalah mijil, wiyos, raras, medal, sulastri yang memiliki
arti keluar. Macapat mijil merupakan tembang kedua setelah Maskumambang.
Tembang macapat maskumambang sendiri mempunya makna janin atau jabang bayi yang
masih didalam kandungan ibunya.
Kelahiran
merupakan proses dimana seorang sedang memperjuangkan dua nyawa sekaligus dalam
satu waktu, yakni antara dirinya sendiri dan anaknnya sedang dalam proses
kelahiran. Bagaimanapun beratnya proses tersebut, didalamnya tertanam cinta dan
harapan dari seluruh anggota keluarga, harap-harap cemas namun bahagia ketika
menanti si jabang bayi lahir.
Jabang bayi
yang mijil dari rahim ibunya adalah sebuah kesucian, dia tidak dapat memilih
lahir dari siapa. Seperti dijaman edan seperti sekarang ini banyak sekali bayi
terlahir dari hubungan diluar pernikahan. Namun tetap bayi tersebut adalah
suci, banyak orang mengatakan bahwa bayi yang lahir diluar pernikahan adalah
anak haram, persepsi tersebut adalah salah besar apapun yang terjadi bayi baru
lahir adalah suci yang haram itu orang tua mereka yang tidak menikah.
Saat bayi
pertama kali lahir baru mengenal dunia pertama kali, ia diberikan wewenang
untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Ia dihadirkan agar dapat menjadi manusia
hingga nanti suatu saat pasti kembali kepada-Nya dengan damai.
Dedalane guno lawan sekti
kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
ono catur mungkur
kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
ono catur mungkur
9. Tembang Macapat Maskumambang
Maskumambang
berasal dari sebuah kata mas dan kumambang. Mas atau emas yang memiliki makna
berarti suatu yang begitu berharga. Bahwa, meskipun anak masih didalam
kandungan merupakan sebuah harta yang tidak ternilai. Mambang atau kemamambang
ialah memiliki arti mengambang. Jadi maskumambang menggambarkan seorang bayi
yang hidup mengambang didalam rahim ibunya. Selama kurang lebih 9 bulan tumbuh
dan hidup didalam dunia ibunya yaitu rahim.
Kata mas masih
belum diketahui maksud dari artinya merupakan laki-laki atau perempuan dan kata
kumambang artinya hidup yang masih mengambang atau bergantung di alam kandungan
sang ibu.
Kelek-kelek biyung sira aneng ngendi
(12i)
Enggal tulungana (6a)
Awakku kecemplung warih (8i)
Gulagepan wus meh pejah (8o)
Enggal tulungana (6a)
Awakku kecemplung warih (8i)
Gulagepan wus meh pejah (8o)
10. Tembang Macapat Megatruh
Megatruh
merupakan penggabungan dari dua kata yaitu megat dan ruh, yang mana arti dari
megat adalah berpisah maka arti dari megatruh adalah terpisahnya nyawa atauh
ruh dari jasad. Terlepasnya ruh merupakan proses dari menuju keabadian, entah
itu di surga atau di neraka tergantung dari amal perbuatan kita di dunia.
Pujangga WS
Rendra pada saat bulan purnama ditengah malam bulan Sya’ban tepatnya pada
tanggal 6 Agustus atau tanggal 15 Sya’ban. Saat menjelang Sakratul Maut tepat
diatas ranjang kematiannya dia bersyair:
“Aku
ingin kembali pada jalan alam”
“Aku
ingin meningkatkan pengabdian pada Allah”
“Tuhan
aku cinta pada-Mu”
Seperti firman
Allah SWT:
“Kullu
Nafsin Dzaaiqotul Maut”, artinya “Setiap Jiwa Pasti Akan Mati”. “Kullu Man
Alaiha Faan”, artinya “Setiap Manusia Pasti Binasa”.
11.
Tembang Macapat Durma
Durma merupakan
menceritakan tentang sifat-sifat buruk. Menurut beberapa kalangan menafsirkan
bahwa durma sebagai munduring tata krama atau dalam bahasa Indonesia berarti
mundurnya etika. Namun ada beberapa yang berpendapat berasal dari kata Derma
yang memiliki arti suka berbagi rejeki pada orang lain.
Sebagai bentuk
rasa syukur kepada Allah maka kita sesama mahluk hidup harus saling berderma.
Durma berasal dari kata (sedekah) berbagi kepada sesama. Dengan berderma
meningkatkan empati sosial kepada saudara-saudara kita yang kekurangan,
mengulurkan tangan berbagi kebahagiaan, dan meningkatkan kepekaan jiwa dan rasa
peduli terhadap kondisi lingkungan masyarakat sekitar.
Mundur
kang dadi tata krama
(Mundur (menjauhi) dari etika)
Dur iku duratmoko duroko dursila
(Dur, itu pencuri, penjahat tak beretika)
Dur iku durmogati dursosono duryudono
(Dur, seperti Durmogati, Dursasana, Duryudana)
Dur udur tan mampu nimbang rasa
(Dur, mau menang sendiri, tak menimbang rasa)
Dur udur paribasan pari kena
(Dur, perumpamaan sekenanya)
Maknane nglaras rasa jroning durma
(Itu perumpamaan Durma)
Sinom dhandanggula kang sinedya
(Remaja dalam mimpi-mimpi indah)
Lali purwaduksina kelon asmaradana
(Lupa segalanya berpeluk asmara)
Lali wangsiting ibu lan rama
(Lupa pesan Ibu Bapaknya)
Mangkono werdine gambuh durma
(Seperti perumpamaan Gambuh dan Durma)
Amelet wong enom ing ngarcapada
(Yang selalu memikat semua kaum remaja dalam kehidupan di muka bumi)
Pan mangkono
(Seperti itu)
Jarwane paribasan parikena
(Maksud pengertian sekenanya)
(Mundur (menjauhi) dari etika)
Dur iku duratmoko duroko dursila
(Dur, itu pencuri, penjahat tak beretika)
Dur iku durmogati dursosono duryudono
(Dur, seperti Durmogati, Dursasana, Duryudana)
Dur udur tan mampu nimbang rasa
(Dur, mau menang sendiri, tak menimbang rasa)
Dur udur paribasan pari kena
(Dur, perumpamaan sekenanya)
Maknane nglaras rasa jroning durma
(Itu perumpamaan Durma)
Sinom dhandanggula kang sinedya
(Remaja dalam mimpi-mimpi indah)
Lali purwaduksina kelon asmaradana
(Lupa segalanya berpeluk asmara)
Lali wangsiting ibu lan rama
(Lupa pesan Ibu Bapaknya)
Mangkono werdine gambuh durma
(Seperti perumpamaan Gambuh dan Durma)
Amelet wong enom ing ngarcapada
(Yang selalu memikat semua kaum remaja dalam kehidupan di muka bumi)
Pan mangkono
(Seperti itu)
Jarwane paribasan parikena
(Maksud pengertian sekenanya)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan apa yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa
pemahaman kembali kearifan lokal etnik Jawa dalam tembang macapat sangat urgen dalam
rangka pembentukan budi pekerti luhur bangsa Indonesia. Dikatakan demikian
karena tembang macapat mengandung ajaran budi pekerti luhur bagi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Jika masyarakat melaksanakan pendidikan, piwulang, atau
ajaran tersebut, dapat diprediksikan terciptanya kehidupan yang harmonis dan
seimbang antara manusia dengan Tuhan, pemimpin, dan manusia yang lain, termask
di dalamnya alam semesta.
Kearifan lokal etnik Jawa yang berupa ajaran yang bersumber dari
tembang macapat itu dapat dimanfaatkan sebagai model dalam menanamkan budi pekerti
bagi bangsa Indonesia. Penanaman budi pekerti melalui tembang tersebut
dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi masyarakat
masing-masing. Jenis tembang yang dipilih menyesuaikan dengan cita rasa tembang
masyarakat daerah masing-masing. Misalnya di Jawa menggunakan media tembang
macapat. Di Bali dan Sunda juga ada macapat, mungkin di Betawi dengan tembang
yang dibungkus gambang kromong. Di Sumatra atau daerah lain dengan lagu
daerahnya masing-masing.
Daftar Pustaka
Arps, Bernard. 1992. Tembang in Two Traditions: Performance and
Interpretation of Javanese Literature. London: University of London
Behrend, T.E.
1990. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara: Museum Sonobudoyo Yogyakarta.
Jakarta: Djambatan.
Casson, Ronald W. 1981. Language, Culture, and Cognition.
New York: Macmillan Publishing Co., Inc.
Halliday, M.A.K. & Ruqaiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan
Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial (terjemahan Asruddin
Barori Tou). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Laginem, Slamet Riyadi, Prapti Rahayu, Sri Haryatmo. 1996. Macapat tradisional dalam Bahasa Jawa. Jakarta:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Marsono. 1996. “Lokajaya: Suntingan Teks, Terjemahan Struktur Teks,
Analisis Intertekstual, dan Semiotik”. Disertasi. Yogyakarta: Pascasarjana UGM.
________.2007. “Revitalisasi Kearifan Lokal Guna Mewujudkan
Masyarakat Sejahtera” dalam Kemajuan Terkini Riset Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta: LPPM UGM.
Sapir. Edward. 1960. Culture, Language, and Personality.
USA: University of California Press.
Tedjohadisumarto, R. 1958. Mbombong Manah 1. Jakarta:
Djambatan.

Komentar