Langsung ke konten utama

Local Wisdom




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Di kalangan masyarakat Jawa, tembang macapat telah dikenal sejak pengaruh Islam berkembang di pesisir kian meluas. Hal itu diperkirakan terjadi pada  abad XV1 dan sampai saat ini masih tetap hidup. Tembang macapat merupakan genre sastra Jawa yang berbentuk puisi dan dipakai sebagai media pendidikan dalam kehidupan sehari hari masyarakat Jawa.
Banyak tulisan para pujangga atau raja Jawa yang digubah dalam bentuk tembang macapat, seperti yang tersebut dalam Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid I yang berisi naskah-naskah yang ada di Museum Sono Budoyo Yogyakarta (Behrend, 1990) antara lain yang berisi sejarah, silsilah, hukum, ajaran, primbon, adat-istiadat, sastra wayang, dan sebagainya. Sebagai salah satu hasil kebudayaan masyarakat Jawa, tembang macapat memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Tembang itu begitu sederhana sehingga banyak orang Jawa dapat melantunkan tembang macapat itu pada zaman tembang itu populer. Oleh karena itu, banyak pujangga ataupun para raja memilih media berupa wacana tembang ini sebagai sarana pendidikan atau pesan bagi masyarakat Jawa pada zaman keraton Kasunananan Surakarta atau Mangkunegaran khususnya.
Pendidikan atau pesan yang digubah dalam bentuk tembang tersebut antara lain berkaitan dengan pembentukan watak, moral, atau budi pekerti luhur bangsa dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini agaknya mencontoh para wali dalam rangka penyebaran agama Islam. Sebagai contoh karya pujangga besar R.Ng. Ranggawarsita yang berjudul Sêrat Jâkâ Lodang, Sêrat Sabdâ Jati, Sêrat Kâlâtidhâ, Sêrat Sabdâ Tâmâ. Wulangrèh, Wulang Sunu, Wulang Èstri karya Sri Susuhunan Paku Buwana IV. Tripâmâ, Wedâtâmâ, Wirâwiyâtâ karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV.
Karya ketiga tokoh itu banyak dikenal di tengah masyarakat. Sampai-sampai banyak orang hafal akan lari-larik dari tembang itu. Pada era modern ini pun tembang macapat masih ditulis atau diciptakan dengan disisipi pesan-pesan tertentu yang berkaitan dengan pengembangan budi pekerti luhur bangsa. Têmbang (sêkar) macapat3 merupakan salah satu jenis puisi di dalam bahasa Jawa yang disebut juga têmbang cilik atau sêkar alit, atau têmbang lumrah (Laginem, dkk., 1996:26).
Disebut tembang karena dalam membawakannya sebenarnya harus dilagukan atau dinyanyikan (Marsono, 1992:77). Hal itu juga dikatakan oleh Arps (1992:14) bahwa tembang macapat merupakan puisi tradisional tertulis yang biasanya dibaca dalam bentuk nyanyian. Cara membaca yang harus dinyanyikan ini merupakan salah satu keunikan dari bentuk puisi dalam bahasa Jawa.
Tembang macapat merupakan corak kesenian dalam budaya tradisional yang secara kolektif dimiliki, dikenal, dan banyak mengandung pengetahuan, serta kearifan lokal (local wisdom) masyarakatnya. Selain itu, juga sarat dengan kaidah, serta berisi petuah, nasihat, dan berbagai kearifan pandangan hidup Jawa. Tembang macapat adalah salah satu jenis kesenian yang memadukan antara puisi dengan musik, baik musik tradisional maupun modern. Pilihan bentuk perpaduan antara tembang dengan musik itu tidak lepas dari kesenangan nenek moyang etnik Jawa untuk melantunkan tembang. Ini terbukti pula dengan adanya berbagai alat musik tradisional Jawa yang telah diciptakan olehnya. Keindahan tembang saat dilantunkan menyebabkan orang mudah menghafal dan menyimpan dalam hati pesan-pesan yang disisipkan dalam tembang itu. Selanjutnya dapat diajak dengan mudah untuk melaksanakan pesan-pesan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika pesan-pesan itu diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan seharihari, maka pesan itu dapat membentuk cita rasa keindahan dan kehalusan budi suatu masyarakat. Hal ini sesuai pendapat Tedjohadisumarto (1958) bahwa tembang juga dapat dipakai sebagai sarana membangun kehalusan budi dan cita rasa keindahan.
Hal lain yang menarik dari tembang macapat adalah adanya wujud salah satu anasir budaya Jawa yang bersifat khas karena isinya mengandung sapaan, amanat, atau pesan bagi seseorang yang menjadi anggota masyarakat etniknya. Tembang macapat dihiasi pula dengan aneka simbol di dalamnya yang harus ditafsirkan maknanya. Hal ini selaras dengan pendapat Casson (1981) bahwa kebudayaan adalah sistem arti yang bersifat simbolik dan bahasa merupakan sistem tanda yang berfungsi sebagai simbol. Simbol-simbol itu dapat diidentifikasi antara lain melalui kespesifikan bahasa yang digunakan dan ritme suara yang lazim dilantunkan. Sebagai contoh, simbol seperti tersirat dalam larik tembang macapat karya Ranggawarsita dalam Sêrat Kalatidha berikut ini:
Amênangi jaman edan,
Menyaksikan zaman edan
ewuh âyâ ing pambudi
serba salah dalam menyiasati
mèlu edan nora tahan
ikut gila tidak tahan
yèn tan mèlu anglakoni
kalau tidak ikut melakukan
boyâ kaduman melik
tidak akan kebagian
kalirên wêkasanipun
kelaparan akhirnya
dilalah karsâ Allah
kalau sudah dikehendaki Allah
begjâ-begjane kang lali
seberuntung apa pun yang lupa daratan
luwih begjâ kang eling lawan waspâdâ
lebih beruntung yang sadar diri dan waspada.’

Dalam salah satu bait dari Sêrat Kalatidha5 di atas mengandung pepatah dan piwulang yang ditujukan kepada anggota masyarakat yang mengenalnya dan menjadi pemilik budayanya. Piwulang ‘ajaran, pendidikan’ yang terkandung dalam bait (pâdâ6) itu disampaikan dalam simbol bahasa yang menyiratkan makna konteks yang mengacu kepada pola pikir orang Jawa. Etnik Jawa diharapkan selalu éling ‘teringat atau sadar diri akan keberadaan Tuhan’ serta waspâdâ ‘waspada’ dalam setiap perilaku hidupnya walaupun diberi kenikmatan yang memabukkan. Orang yang eling dan waspâdâ tidak akan terseret arus keadaan yang dialaminya. Ia senantiasa dapat mengontrol diri agar tetap berjalan di atas rel kebenaran, kepositifan (kebaikan), laku utâmâ atau ke budi pêkêrti luhur7 karena sadar sebagai makhluk Tuhan. Dengan demikian, orang yang selalu berbuat eling dapat terhindar dari perbuatan yang negatif dan mendapatkan pahala dari Allah. Karena itulah disebutkan orang itu lebih beruntung daripada orang yang mengikuti keangkaramurkaan karena terseret arus zaman edan. Ungkapan eling dan waspâdâ memiliki implikatur imperatif permintaan dari penulis kepada orang agar di dalam kehidupan sehari-hari, konsep itu selalu diingat dan dipakai sebagai peringatan apabila orang mengalami hal-hal yang mengharuskan ia memutuskan untuk berbuat angkara murka atau tidak.
Melihat kutipan di atas, larik-larik dalam wacana tembang ternyata mengandung ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan filsafat hidup dan menjadi pendidikan bagi orang Jawa. Makna yang terkandung di dalamnya harus ditafsirkan sendiri oleh anggota masyarakat. Dalam menafsirkan makna, seseorang harus memiliki skemata atau knowledge of the world tentang sesuatu yang disasmitakan itu. Sebagai contoh ungkapan ilmu iku tinêmune kanthi laku8 ‘ilmu itu diperoleh dengan perbuatan prihatin’.
Diperolehnya ilmu, menurut ungkapan di atas harus disertai laku yang secara harafiah berarti ’perbuatan’. Pemahaman kata laku tidak hanya sampai pada makna harafiah saja. Ada makna lain yang harus dipahami dengan cara menerapkan konsep itu di dalam kehidupan sehari-hari. Kata laku di samping memiliki makna dasar ’perbuatan’ yang bersifat lahiriah juga memiliki makna tambahan yang lain, yaitu diikuti oleh adanya perbuatan yang bersifat batiniah, misalnya puasa, berdoa atau berdzikir, dan sebagainya. Dengan cara itu, seseorang baru dapat menemukan konsep dan implikatur dari kata laku serta memahaminya.
B. Rumusan Masalah
Pada kesempatan ini pembahasan hanya dibatasi pada Tripâmâ, Wulangrèh, dan Kâlâtidhâ yang masing-masing mewakili karya dari keraton Kasunanan, Mangkunegaran, dan dari pujangga. Agar masalah dapat lebih terfokus, masalah-masalah yang dibahas dalam pembahasan ini dirumuskan sebagai berikut.
(1)   Apa urgensi pemahaman kembali kearifan lokal etnik Jawa dalam tembang macapat?
(2)   Dapatkah kearifan lokal etnik Jawa yang terdapat dalam tembang-tembang macapat itu dimanfaatkan sebagai media pendidikan budi pekerti luhur bangsa Indonesia?


BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Bahasa Dan Kebudayaan
Bahasa adalah “symbolic meaning system” ‘bahasa adalah sistem makna yang simbolis’, begitu pula halnya dengan kebudayaan yang dikatakan sebagai “symbolic meaning system” (Casson, 1981:11-17). Lebih jauh ahli ini menyatakan sebagai berikut : “Like language, it is a semiotic system  in which symbols function to communicate meaning from one mind to another. Cultural like symbols, like linguistic symbols, encode a connection between a signifying form and a signaled meaning”, ‘Seperti bahasa, kebudayaan adalah sistem tanda yang merupakan simbol yang berfungsi untuk mengkomunikasikan makna dari satu konsep pikiran ke yang lain. Simbol-simbol yang terdapat dalam kebudayaan, seperti halnya simbol-simbol linguistik, mengkodekan hubungan antara bentuk yang menandai dan makna yang ditandai’.
Dari pernyataan itu tampak lebih jelas lagi bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang berfungsi sebagi simbol dalam mengkomunikasikan makna dari seseorang kepada yang lain. Kebudayaan juga simbol, seperti simbol bahasa, yang merupakan penanda dan petanda. Senada dengan itu Sapir (1960:70) juga mengatakan bahwa bahasa merupakan petunjuk yang sifatnya simbolis terhadap budaya. Jadi, bahasa sebagai hasil kebudayaan manusia merupakan simbol makna yang diciptakan untuk keperluan manusia dalam berkomunikasi. Halliday dan Hassan (1992:4) mengatakan bahwa budaya sebagai seperangkat sistem semiotik, sebagai seperangkat sistem makna, yang semuanya saling berhubungan. Bahasa sebagai salah satu dari sejumlah sistem makna yang secara bersama-sama membentuk budaya manusia.
Secara garis besar Levi-Strauss12 (1963:68) membedakan tiga macam pandangan mengenai hubungan antara bahasa dan kebudayaan sebagai berikut :
(1)   Bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat dianggap sebagai refleksi dari seluruh kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
(2)   Bahasa adalah bagian dari kebudayaan, atau bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan.
(3)   Bahasa merupakan kondisi kebudayaan.
2.  Kearifan Lokal Dan Wujudnya
Kearifan lokal (local wisdom, local knowledge, local genius) juga didefinisikan sebagai pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka.
Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Selanjutnya dikatakan bahwa wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Sebagai sebuah istilah wisdom sering diartikan sebagai “kearifan/ kebijaksanaan”. Lokal secara spesifik menunjuk pada ruang interaksi terbatas dengan sistem nilai yang terbatas pula.
Kearifan lokal tersebut terpelihara dengan baik meskipun telah terjadi interaksi dengan dunia luar dan mengalami akulturasi budaya denga kebudayan di luar kebudayaan mereka. Kearifan-kearifan lokal dalam masyarakat kita dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari hari. Kearifan lokal lebih menggambarkan satu fenomena spesifik yang biasanya akan menjadi ciri khas komunitas kelompok tersebut, misalnya alonalon asal klakon (masyarakat Jawa Tengah), rawerawe rantas malang-malang putung (masyarakat Jawa Timur), ikhlas kiaine manfaat ilmune, patuh gurune barokah uripe (masyarakat pesantren), dan sebagainya.
Menurut Marsono (2007:182) dalam masing-masing etnik Nusantara banyak terdapat kearifan lokal. Sewaktu bangsa Nusantara belum bisa tulis menulis kearifan lokal yang memuat amanat pembentukan budi luhur dituangkan dalam bentuk upacara-upacara tradisional, legenda-legenda/ cerita rakyat/ dongeng, ungkapan-ungkapan, dan relief. Setelah bangsa ini mampu tulis-menulis maka sarana yang dipakai lewat bentuk tulis.
3.  Urgensi Pemahaman Kembali Kearifan Lokal Etnik Jawa Melalui Tembang Macapat.
Dari hasil telaah dan pemahaman kembali terhadap tembang macapat Tripâmâ, Wulangrèh, dan Kâlâtidhâ (selanjutnya disingkat T, W, dan K) dapat dikatakan bahwa ketiga tembang macapat itu mengandung bermacam-macam piwulang/ ajaran yang berkaitan dengan budi pekerti manusia hidup di dunia. Wujud piwulang itu berupa ungkapan-ungkapan yang disisipkan di dalam tembang macapat itu. Penggubah tembang (O1) bermaksud memberikan piwulang itu kepada para keturunan raja, para abdi keraton, dan juga masyarakat etnik Jawa (O2).
Penyampaian pesan berupa piwulang yang dibungkus melalui tembang itu sangat efektif, sehingga mampu menjangkau masyarakat etnik Jawa secara luas. Dengan cara memasyarakatkan tembang macapat di kalangan etnik Jawa, pesanpesan raja sampai kepada O2 secara perlahan namun pasti. Masyarakat diajak nembang dengan berbagai metrum yang berbeda. Dari kebiasaan nembang itulah pesan-pesan itu dengan tidak disadari telah dihafal oleh masyarakat etnik Jawa dan meresap ke dalam hati sanubari mereka.
Kemudian dalam kehidupan sehari-hari secara otomatis melaksanakan pesan-pesan itu. Dengan demikian O1 secara tidak langsung telah mempengaruhi O2 agar melaksanakan pesan-pesan tersebut. Apa yang dilakukan oleh O1 dapat pula dikatakan sebagai bentuk kearifan lokal yang dilakukan oleh O1 atau para leluhur etnik Jawa. Dikatakan demikian karena para leluhur berusaha membentuk budi pekerti masyarakat etnik Jawa melalui tembang. Leluhur etnik Jawa juga menciptakan tradisi yang menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh etnik Jawa dalam kehidupannya. Tradisi itu dipelihara secara turun-temurun dan hingga saat ini masih dipertahnkan keberadaannya. Dengan demikian, dapat pula dikatakan bahwa tembang macapat merupakan sumber kearifan lokal etnik Jawa di dalam hal piwulang budi pekerti atau watak yang patut diteladani.
Berdasarkan telaah terhadap ketiga tembang tersebut, ditemukan kearifan lokal yang berkaitan dengan pembentukan budi pekerti luhur etnik Jawa. Pesan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, raja/ pemimpin/ negara, dan dengan manusia lain.
Hubungan manusia dengan alam diintegrasikan dengan ketiga hubungan tersebut. Berikut ini pembicaraan secara singkat mengenai hal itu.
a.  Piwulang yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan
Kearifan lokal yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan yang ditemukan dalam ketiga tembang yang dibahas tersebut antara lain agar O2 memahami kesempurnaan Tuhan. Kesempurnaan itu terbukti dari penyebutan terhadap Tuhan seperti Hjang Agung ‘Yang Agung’ (W, 309, 516, 521, 836), Gusti Kang Murbâ ‘Tuhan Yang Maha Menguasai’ (W, 448), Hyang Widdhi atau Allah (K,69, 99), dan sebagainya.
Piwulang yang lain adalah agar O2 memahami ajaran Islam beserta kitab suci Al- Quran karena merupakan kitab yang isinya berupa tuntunan kehidupan yang sempurna (W, 21), kalau perlu bisa dilakukan dengan cara berguru untuk mempelajari kitab suci tersebut. Namun, tidak sembarang guru bisa dipilih, harus ada kriteria tertentu (W, 31 – 38). Setelah itu hendaklah menjalankan rukun Islam dan syariat agama yang lain (W,1092). Dalam menjalankan rukun Islam itu hendaklah selalu berdzikir dan berdoa (W, 1181 – 1187). Tidak lupa pula berupaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa (W, 1400 –1408) dengan cara selalu mengolah batin (W, 81–86), selalu bersyukur dan ikhlas dalam menjalankan ibadah (1177 –1180 dan 1224 – 1225); serta jangan terlena karena hidup hanya diibaratkan mung mampir ngombe (W, 1126 – 1132), setiap saat manusia dipanggil menghadap-Nya karena memenuhi takdirnya ((T, 20, 40, dan 59; K, 55 –62). Selain itu, ajaran agar O2 tidak sêmbrânâ (W, 1112 –1118) di dalam menjalankan perintah agama.
Pendekatan diri kepada Tuhan biasa dilakukan oleh etnik Jawa, baik melalui cara kejawen atau agama. Jika melalui kejawen proses pendekatan diri kepada Tuhan biasanya dilakukan dengan cara semedi ‘berdoa secara khusyuk’, nglakoni ‘meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi’, atau tâpâ brâtâ ‘bertapa’ dalam suatu tempat tertentu. Dalam agama Islam hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan rukun Islam disertai berdoa secara khusyuk atau melakukan ritual agama Islam secara khusus seperti shalat malam atau berdzikir. Selain itu ada empat tahap proses pendekatan diri kepada Tuhan dengan tingkatan makin tinggi semakin memperoleh kemungkinan untuk bisa dekat dengan Tuhan. Empat tahapan itu adalah syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Tahapan syariat adalah tahapan paling rendah, diikuti tahapan berikutnya makin tinggi tatarannya.
Dari pengetahuan tentang kedekatan diri dengan Tuhan itu dalam budaya Jawa muncul kearifan lokal yang berupa ungkapan sêmbah râgâ sebagai padanan tingkat syariat, sêmbah ciptâ padanan tahap tarekat, sêmbah jiwâ sebagai padanan hakikat, sêmbah râsâ padanan makrifat. Sêmbah râsâ merupakan tataran tertinggi dalam tahapan kedekatan antara manusia dengan Tuhannya. Dalam budaya Jawa tingkat makrifat atau sêmbah râsâ dapat disamakan dengan manunggaling Gusti-kawulâ. Ada kepercayaan di dalam sistem religi etnik Jawa bahwa antara seseorang dengan Tuhannya bisa menyatu yang disebut manunggale Gusti-kawulâ.  
Persatuan ini diibaratkan permata atau emas dengan tembaga yang menyatu menjadi suasa. Persatuan itu juga harus bersih, tidak ada nafsu aluamah dan amarah, suci lahir-batin. Itu semua harus disertai dengan kesabaran, tidak boleh tergesa-gesa atau nggege mangsa. Kalau telaten akan tercapai kemanunggalan itu. Di dalam masyarakat etnik Jawa kepercayaan ini saat ini masih ada dan dilakukan di dalam masyarakat etnik Jawa, walaupun agama Islam telah mendalam di masyarakat etnik Jawa. Konsep persatuan tersebut memiliki padanan atau disimbolkan dengan konsep curigâ manjing warângkâ ‘keris yang masuk ke dalam wadahnya’.
b.  Piwulang menyangkut hubungan manusia dengan Raja/ Pemimpin/ Negara
Piwulang yang berkaitan dengan hubungan manusia sebagai abdi kepada raja/ pemimpin/ negara yang ditemukan dalam ketiga tembang yang ditelaah, mencakup perilaku agar O2 selalu menunjukkan guna, kâyâ, dan purun kepada raja (T, 1—10); meneladani sikap nasionalisme, bela negara, dan kepahlawanan; memiliki rasa balas budi kepada negara (T, 1 – 10, 21 – 24, 41 – 60); tidak melupakan tanah tumpah darah (T, 31 –40) marsudi ing kotaman (T, 61 – 70); taat hukum (W, 455 – 458); Kearifan lokal yang dapat diambil dari pengetahuan ini adalah sikap yang harus dilakukan oleh rakyat apabila ingin mengabdi kepada raja. Seseorang harus memiliki gunâ ‘kepandaian’. Gunâ disimbolkan kepandaian atau kesaktian Patih Suwanda dalam memenangkan sayembara yang diadakan oleh Raja Magada.
Kâyâ adalah keberhasilan Patih Suwanda dalam menaklukkan raja-raja lain dalam mengikuti sayembara, sehingga ia dapat memperoleh harta rampasan dan upeti dari raja-raja yang ditaklukkan. Purun adalah kesetiaan Sang patih di dalam melaksanakan tugas negara yang tanpâ pamrih, bahkan nyawanya sebagai taruhannya. Ia hanya melaksanakan tugas sesuai dengan apa yang ditugaskan oleh raja. Apa yang ia bawa tidak sedikitpun dikorupsi.
Jadi, pengabdian yang total diharapkan dilakukan oleh mereka yang mengabdi. Kearifan lokal yang dapat diperoleh dari pola berpikir di atas adalah munculnya ungkapan sadumuk bathuk sanyari bumi, ditohi pati ‘sedikit saja dahi (wajah istri) dipegang (dilecehkan), atau tanah sejengkal saja apabila diganggu, maka harus dibela dengan taruhan nyawa’. Dalam pandangan etnik Jawa, (istri dan) tanah merupakan lambang harga diri. Sebuah negara, bahkan hanya sejengkal tanah saja, harus dibela sampai mati apabila itu diganggu atau diduduki negara (orang) lain. 
Kearifan lokal yang muncul dalam komunitas etnik Jawa berkaitan dengan hal di atas adalah munculnya ungkapan mikul dhuwur mêndhêm jêro ‘memikul tinggi, memendam yang dalam’. Ungkapan ini mengandung maksud agar O2 menghormati orang tuanya/ leluhur/ pemimpin setinggi-tingginya dan menghargainya. Dengan demikian O2 telah melakukan laku utâmâ . Sikap ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang anak atau generasi muda kepada orang tua/ leluhur/ pemimpin yang telah memberikan segala keperluan kita.
Temuan lain yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan raja/ pemimpin/ negara adalah agar O2 sebagai seorang abdi negara hendaklah gemi , nastiti ‘cermat’, dan ngati-ati ‘hati-hati’ (W, 499 – 502); bersikap mantep ‘teguh’ dan setya tuhu ’loyal’ terhadap raja (W, 511 – 515); mematuhi semua perintah raja (W,516 – 520, dan 556 – 560); melaksanakan kewajiban sesuai tugasnya (W, 562 – 570); menghormati (menyembah) raja, karena raja merupakan wakil Tuhan (W, 516 – 520); ikhlas lahir-batin (W, 521 – 525); seorang perwira bersikap ksatria, santun, dan teliti dalam berperilaku (W, 937 – 941); menerima dan menikmati semua pemberian raja (W, 965 – 976); meniru hal yang positif dari raja W, 1562, 1566, 1568, 1573 – 1575, 1656, 1669, 1674, 1682, 1685).
c.  Piwulang menyangkut hubungan manusia dengan manusia lain
Piwulang yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia lain yang ditemukan dalam ketiga tembang yang dianalisis, dapat dkelompokkan menjadi dua, yaitu yang berupa permintaan dan yang berupa larangan. Yang berupa permintaan adalah hendaklah menjaga keprofesionalan (W, 71 – 80); berusaha keras dalam meraih cita-cita (W, 81 – 86); agar selektif dalam berteman (W, 95 – 98); agar  menghormati, patuh, selalu mengingat ajaran orang tua/ leluhur, dan berperilaku baik(W, 166 – 171); tabêri ‘rajin dan teliti’ (W, 142 –147); meniru ajaran yang benar walaupun datangnya dari kaum sudra (W, 182 –186); rèrèh ‘sabar’, ririh ‘halus, lembut’, ngati-ati ‘hati-hati’, atau cermat (W, 213 – 216); dapat mempertimbangkan yang baik dan yang buruk, adat dan tatanan, tata krama (sopan santun), serta musyawarah untuk perkara yang kecil maupun besar (W, 257 – 263); mengenali watak manusia (W, 284 – 295); melakukan sêmbah limâ W, 403 – 414); mengurangi makan, tidur, dan nafsu yang membara (W, 601 – 607); menyadari bahwa benar-salah, baik-buruk, untung-celaka disebabkaan oleh ulah sendiri (W,615 – 621); hati-hati berbicara (W, 697 – 708); satu saudara kandung bersatu dan tidak individual (W, 516 – 522); tidak pilih kasih (W, 871 – 874); saling menghormati dan saling menghargai (W, 875 – 878); tahu asal-usul (W, 977 – 982); senang menimba ilmu atau belajar tekun (W, 1067 – 1072); selalu bertakwa (W, 1091 – 1097); bersikap narimâ ‘menerima’ (W, 953 – 958); banyak mendengarkan atau membaca cerita dan senang nembang (W, 1266 – 1272); berbudi pekerti luhur (W,1436 – 1444); berhati-hati menentukan sikap (W, 1381 – 1390); generasi muda lebih baik daripada pendahulunya (W, 1658 – 1665); mencari kesempurnaan hidup (W, 1730 – 1737); mendoakan keturunannya (W, 1666 – 1673); mawas diri (K, 72 – 80).
Yang berupa larangan adalah agar O2 tidak berlebihan tidur dan makan (W, 87 – 92); tidak sombong, angkuh, dan congkak (W, 93 – 94); tidak banyak bicara (W, 153 – 158); tidak kêpatuh (W, 171 – 175); tidak suka disanjung dan disuap maupun menyuap (W, 226 – 235); tidak suka mengobral janji (W, 246 – 250); tidak dekat orang yang bersikap dêgsurâ (W, 277 – 283); tidak bersikap drêngki, srèi, dorâ, irèn, mèrèn, panastèn, kumingsun, jail, mutakil, dan basiwit (W, 312 – 318); tidak bersikap lunyu, lèmèr(an), genjah, angrong prasanakan, nyumur gumuling, dan ambuntut arit (W, 347 – 353); tidak mengikuti ajaran yang diberikan oleh orang tua atau saudara jika dirasa hal itu tidak baik (W, 379 – 386); tidak berani kepada orang tua (W, 395 – 398); tidak melakukan tiga hal, yaitu nggunggung ‘menyanjung’, nacat ‘mencacat orang lain’, dan maoni ‘tidak mempercayai semua orang’ (W, 625– 629); tidak suka ngrasani (W, 678 – 684); tidak mengumpat atau berkatakata kotor (W, 709 – 714); jangan mengambil janda saudara, abdi, dan teman bekerja (W, 721 – 726); jangan mengonsumsi opium atau narkoba, bertaruh, menjadi penjahat, dan berhati saudagar, dan pemabok (W, 739 – 744); tidak bergaul dengan wanita yang buruk tabiatnya, serta tidak membuka rahasia di depan wanita (W, 829 – 834); tidak angkuh, bêngis, lêngus, lanas, calak, lancang, langar, ladak, sumalonong, ngidak, ngêpak, dan siyâ-siyâ (W, 1133 – 1139); tidak sêmbrânâ ‘teledor’, bersikap tidak menerima, tidak mudah bosan berdialog dengan orang tua (W, 1161 – 1167); tidak mengabaikan wulang (W, 1594 – 1601).
Ungkapan-ungkapan yang disisipkan dalam tembang macapat dalam hal berhubungan antara manusia dengan manusia yang lain atau antara masyarakat yang satu dengan masyarakaat yang lain di atas merupakan ajaran yang disampaikan O1 kepada O2. Isi ajaran tersebut ada yang berupa sebuah permintaan dan ada pula  yang berupa larangan. Permintaan tersebut pada umumnya berupa permintaan dari O1 kepada O2 agar melakukannya, sedangkan yang berupa ajaran mengenai perilaku buruk berupa larangan agar O2 tidak melakukannya. Semua ajaran itu menjadi kearifan lokal etnik Jawa yang hidup dan menjadi tradisi bagi etnik Jawa sampai saat ini.
Berdasarkan telaah terhadap ketiga tembang di atas dapat dikatakan  bahwa pemanfaatan kembali terhadap kearifan lokal etnik Jawa yang terdapat dalam tembang macapat sangat urgen jika dikaitkan dengan upaya pembentukan budi pekerti luhur bangsa Indonesia.
4.  Pemanfaatan Tembang Macapat sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Luhur
Bangsa Indonesia Berdasarkan pembahasan tentang tembang macapat Tripâmâ, Wulangrèh, dan Kâlâtidhâ sebagai sumber kearifan lokal bagi etnik Jawa diketahui bahwa ketiga tembang itu berisi pendidikan, piwulang, atau ajaran. Adapun ajaran itu berisi hal-hal yang menyangkut budi pekerti luhur yang berkaitan dengan budi pekerti manusia yang meliputi sikap nasionalisme, kepahlawanan, agama, etika, moral, dan perilaku hidup seharihari, serta perilaku dalam pemerintahan. Ajaran itu tidak hanya mengenai hal-hal yang baik, namun juga mencakup hal-hal yang buruk.
Keduanya diajarkan agar O2 dapat membedakan budi pekerti yang baik dan sifat-sifat buruk. Pendidikan yang baik wajib diteladani, sedangkan sifat-sifat yang buruk ditinggalkan dan disimpan sebagai pengetahuan jika suatu saat menghadapi hal yang buruk itu. Ungkapan-ungkapan yang ada di dalam tembang itu merupakan kearifan lokal dan kekayaan kebudayaan yang dimiliki etnik Jawa.
Ungkapan-ungkapan yang diidentifikasi sebagai ajaran tentang budi pekerti itu selanjutnya menjadi pola pikir dan pandangan hidup etnik Jawa yang terselip di dalam larik-larik tembang. Penyebaran ke berbagai komunitas etnik Jawa itu terjadi melalui nyanyian yang sering dilakukan oleh masyarakat etnik Jawa. Dengan cara menyanyikan mereka akhirnya hafal ungkapan-ungkapan yang terdapat di dalam tembang itu. Dengan menyanyikan tembang itu mereka juga tidak sadar telah merefleksi makna ungkapan-ungkapan yang ada di dalam tembang itu.
Dengan demikian akhirnya ungkapan-ungkapan itu lalu menjadi kearifan lokal yang dimiliki oleh etnik Jawa. Ungkapan-ungkapan itu dikatakan sebagai kearifan lokal etnik Jawa karena hanya etnik Jawa saja yang memahami makna atau sasmita dari ungkapan-ungkapan melalui proses refleksi dalam kurun waktu yang lama. Dari ungkapan yang ada di dalam tembang kemudian etnik Jawa melengkapi dengan ungkapan-ungkapan lain yang diciptakan untuk menghadapi permasalahan-permasalah yang muncul di dalam kehidupan sehari-hari.
Ungkapan lain itu merupakan ungkapanungkapan yang mengandung daya sugesti bagi etnik Jawa, sehingga etnik Jawa mampu keluar dari permasalahan yang dihadapi. Sebagai contoh: ada ungkapan adiguna, adigang, adigung menyebabkan munculnya ungkapan aja dumeh sebagai langkah untuk menanggulangi agar orang tidak melakukan perbuatan adiguna, adigang, adigung.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa dalam ketiga wacana tembang macapat itu terkandung konsep pemikiran atau cara memandang masyarakat etnik Jawa terhadap Tuhan, negara/ raja, dan manusia lain. Konsep itu lalu dituangkan dalam bentuk tulisan yang berupa tembang macapat. Setelah itu, tembang beredar di masyarakat etnik Jawa dan apa yang tertulis di dalam larik-larik itu menjadi sistem kognisi atau sistem pengetahuan bagi etnik Jawa.
Sistem pengetahuan yang berupa cara pandang etnik Jawa itu dapat dipahami oleh etnik Jawa secara turun-temurun dan direfleksi secara tidak langsung melalui nyanyian dalam kurun waktu yang lama. Pengetahuan ini kemudian menjadi strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan masyarakat etnik Jawa dalam menyelesaikan berbagai persoalan atau masalah yang muncul di kalangan mereka.
Dengan demikian ungkapan-ungkapan itu telah menjadi kearifan lokal dan kekayaan kebudayaan bagi etnik Jawa dan dimiliki secara turun-temurun. Cara menanamkan ungkapan-ungkapan yang mengandung pendidikan, piwulang, atau ajaran kepada generasi selanjutnya melalui tembang dan tulisan itu sangat baik dilestarikan karena dengan tembang pesan-pesan mudah masuk ke dalam hati sanubari. Walaupun ada pula ungkapan-ungkapan yang saat ini tidak relevan karena kemajuan zaman, namun kearifan ini perlu pula dipakai sebagai model bagi penanaman dan pengembangan budi pekerti luhur bagi generasi muda.
Beberapa contoh tembang macapat dapat penulis sampaikan antara lain:
1. Tembang Macapat Pocung
Pocung merupakan salah satu dari 12 puisi jawa tembang macapat yang paling sederhana. Pucung biasanya disebut juga dengan pocung. Pocung adalah tetembangan yang digunakan untuk mengingat akan kematian, karena mirip dengan kata pocong yang memiliki arti sebagai pembungkus mayat akan dikubur.
Pocung juga memiliki arti woh-wohan atau dalam bahasa Indonesianya adalah buah-buahan yang memberi kesegaran. Kata cung sendiri ialan mengingatkan pada kuncung yang lucu, sehingga perkembangan dari tembang ini merujuk pada sesuatu yang lucu, parikan atau badhekan (tebak-tebakan).
Ngelmu iku kalakone kanthi laku
(Ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan)
Lekase lawan kas
(Dimulai dengan kemauan)
Tegese kas nyantosani
(Artinya kemauan yang menguatkan)
Setya budaya pangekese dur angkara
(Ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan)
Angkara gung neng angga anggung gumulung
(Kejahatan besar di dalam tubuh kuat menggelora)
Gegolonganira
(Menyatu dengan diri sendiri)
Triloka lekeri kongsi
(Menjangkau hingga tiga dunia)
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
(Jika dibiarkan akan berkembang menjadi bencana)
Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun
(Tetapi berbeda dengan yang sudah suka menyepi)
Semune ngaksama
(Tampak sifat pemaaf)
Sasamane bangsa sisip
(Antar manusia yang penuh salah)
Sarwa sareh saking mardi martatama
(Selalu sabar dengan jalan mengutamakan sikap rendah hati)
Taman limut durgameng tyas kang weh limput
(Dalam kabut kegelapan, angkara dihati yang selalu menghalangi)
Karem ing karamat
(Larut dalam kesakralan hidup)
Karana karoban ing sih
(Karena temggelam dalam kasih sayang)
Sihing sukma ngrebda saardi pengira
(Kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung)
Yeku patut tinulat tulat tinurut
(Sebenarnya itulah yang pantas dilihat, dicontoh dan patut diikuti)
Sapituduhira
(Sebagai nasehatku)
Aja kaya jaman mangkin
(Jangan seperti zaman nanti)
Keh pra mudha mundhi diri Rapal makna
(Banyak anak muda menyombongkan diri dengan hafalan arti)
Durung becus kesusu selak besus
(Belum mumpuni tergesa-gesa untuk berceramah)
Amaknani rapal
(Mengartikan hafalan)
Kaya sayid weton mesir
(Seperti sayid dari Mesir)
Pendhak pendhak angendhak Gunaning jalma
(Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain)
2. Tembang Macapat Gambuh
Tembang macapat gambuh adalah salah satu tembang yang mengajarkan tentang berbagai macam ajaran kepada generasi muda, terkhusus iala tentang mengenai bagaiman cara menjalin hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya.
Banyak juga yang menafsirkan bahwa kata gaambuh memiliki arti sebuah kecocokan, sepaham dan sikap kebijaksaan. Sikap bijaksana tersebtu memiliki arti bahwa dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai takarannya, dan dapat bersikap adil.
Nasihat-nasihat tentang betapa pentingnya membangun rasa persaudaraan, toleransi dan kebersaman sebagai mahluk sosial banyak tergambar dari tembang-tembang macapat gambuh.
Sekar gambuh ping catur,
(Tembang gambuh keempat)
Kang cinatur polah kang kalantur,
(Yang dibicarakan tentang perilaku yang kebablasan)
Tanpa tutur katula-tula katali,
(Tanpa nasihat terjerat penderitaan)
Kadaluwarsa kapatuh,
(Terlanjur menjadi kebiasaan)
Kapatuh pan dadi awon.
(Kebiasaan bisa berakibat buruk)
Aja nganti kabanjur,
(Jangan sampai terlanjur)
Barang polah ingkang nora jujur,
(Bertingkah polah yang tidak jujur)
Yen kebanjur sayekti kojur tan becik,
(Jika telanjur tentu akan celaka dan tidak baik)
Becik ngupayaa iku,
(Lebih baik berusahalah)
Pitutur ingkang sayektos.
([menngikuti] ajaran yang sejati)
Tutur bener puniku,
(Ucapan yang benar itu)
Sayektine apantes tiniru,
(Sejatnya pantas untuk diikuti)
Nadyan metu saking wong sudra papeki,
(Meskipun keluar dari orang yang rendah derajatnya)
Lamun becik nggone muruk,
(Jika baik dalam mengajarkan)
Iku pantes sira anggo.
(Itu pantas kau pakai)
Ana pocapanipun,
(Ada sebuah ungkapan)
Adiguna adigang adigung,
(Adiguna, adigang, adigung)
Pan adigang kidang adigung pan esthi,
(Seperti Adigang-nya kijang, adigung-nya gajah)
Adiguna ula iku,
(Adiguna-nya ular)
Telu pisan mati sampyoh.
(Ketiganya mati bersama dengan sia-sia)
Si kidang ambegipun,
(Si kijang memiliki watak)
Angandelaken kebat lumpatipun,
(Menyombongkan kecepatannya melompat/berlari)
Pan si gajah angandelken gung ainggil
(Si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar)
Ula ngandelaken iku,
(Ular menyombongkan)
Mandine kalamun nyakot.
(Keampuhannya dengan menggigit)
Iku upamanipun,
(Itu sebuah perumpamaan)
Aja ngandelaken sira iku,
(Jangan menyombongkan diri)
Suteng nata iya sapa kumawani,
(Seorang raja siapa yang berani)
Iku ambeke wong digang,
(Itu perilaku yang adigang)
Ing wasana dadi asor.
(Yang akhirnya bisa merendahkan)
Adiguna puniku,
(Watak adiguna adalah)
Ngandelaken kapinteranipun,
(Menyombongakan kepandaiannya)
Samubarang kabisan dipundheweki,
(Seolah semua bisa dilakukan sendiri)
Sapa bisa kaya ingsun,
(Siapa yang bisa seperti aku)
Togging prana nora enjoh.
(ujung-ujungnya tak bisa apa-apa)
Ambek adigung iku,
(Watak orang adigung adalah)
Angungasaken ing kasuranipun,
(Menyombongkan keperkasaannya)
Para tantang candhala anyenyampahi,
(Semua ditantang berkelahi dan disepelekan)
Tinemenan nora pecus,
(Jika benar dihadapi, ia tak berdaya)
Satemah dadi geguyon.
(Akhirnya hanya jadi bahan tertawaan)
Ing wong urip puniku
(Dalam kehidupan manusia)
Aja nganggo ambek kang tetelu,
(Jangan sampai memiliki watak ketiga tadi)
Anganggowa rereh ririh ngati-ati,
(Milikilah sifat sabar, cermat, dan berhati-hati)
Den kawangwang barang laku,
(Selalu introspeksi pada tingkah laku)
Kang waskitha solahing wong.
(Pandailah membaca perilaku orang lain)

3. Tembang Macapat Pangkur
Pangkur sendiri memiliki arti berari mungkur jika diartikan dalam bahasa indonesia adalah mundur atau mengundurkan diri. Merupakan sebuah gambaran manusia yang memiliki fase dimana akan mulai mundur dari kehidupan ragawi dan menuju kehidupan jiwa atau spritual.
Pangkur atau mangkur juga memiliki arti menyingkir yang ditafsirkan adalah menyingkirkan hawa nafsu angkara murka, nafsu negatif yang menggerogoti jiwa. Menyingkirkan nafsu angkara murka dunia, dibuthkan riyadhah atau upaya yang bersungguh-sunguh dan khususnya di bulan Ramadhan, ketika itu harus benar-benar memaksimalkan ibadah agar dapat meminimalisir dan mereduksi nafsu-nafsu angkara yang telah menggerogoti dinding kalbu kita.
Mingkar-mingkuring ukara
(Membolak-balikkan kata)
Akarana karenan mardi siwi
(Karena hendak mendidik anak)
Sinawung resmining kidung
(Tersirat dalam indahnya tembang)
Sinuba sinukarta
(Dihias penuh warna )
Mrih kretarta pakartining ilmu luhung
(Agar menjiwai hakekat ilmu luhur)
Kang tumrap ing tanah Jawa
(Yang ada di tanah Jawa/nusantara)
Agama ageming aji.
(Agama “pakaian” diri)
4. Tembang Macapat Sinom
Kata sinom yang memiliki arti pucuk yang baru bersemi dan tumbuh. Tembang sinom sendiri memiliki filosofi yang menggambarkan seorang manusia tengah beranjak dewasa dan menjadi seorang pemuda atau remaja yang sedang bersemi. Saat menjadi dewasa seorang remaja, memiliki tugas wajib ialah untuk menuntut ilmu sebaik mungkin agar dapat menjadi bekal kehidupannya kelak dimasa depan.
Tembang macapat sinom mengkisahkan tahapan manusia pada puberitas. Masa tersebut merupakan masa ketika seorang anak akan mengalami perubahan fisik, psikis dan pematangan dari fungsi seksual.
Masa puberitas pada kehidupan biasanya dimulai ketika berumur delapan sampai sepuluh tahun dan berakhir kurang lebih di usia 15 sampai 16 tahun.
Hal tersebut yang dimaksud dengan pengertian puber atau pengertian pebuertias. Dalam bentuk perubahan psikologis anak pada masa puber berusaha mencari jati diri untuk memenuhi rasa ingin tahunya yang sangat besar.
Dalam proses mencari jati diri, seringya remaja menentang kemapanan karena merasa hal tersebut membelenggu kebebasannya. Mereka tidak ingin disebut sebagai anak-anak lagi. Hal yang sangat umum terjadi dalam puberitas adalah ketertarikannya terhadap lawan jenis. Timbulnya rasa tersebut biasanya disebut dengan sebutan “cinta monyet” ialah hubungan asmara yang bersifat sementara dan tidak bertahan lama serta cepat menghilang.
Nulada laku utama
(Mencontohlah perilaku yang utama)
Tumrape wong tanah Jawi
(Bagi orang di tanah Jawa)
Wong agung ing Ngeksiganda
(Orang besar dari Ngeksiganda/Mataram)
Panembahan Senopati
(Panembahan Senopati)
Kepati amarsudi
(Sangat tekun berusaha)
Sudane hawa lan nepsu
(Mengurangi hawa nafsu)
Pinepsu tapa brata
(Dengan cara laku prihatin/bertapa)
Tanapi ing siyang ratri
(yang dilakukan siang dan malam)
Amamangun karyenak tyasing sesami
(Berkarya membangun ketenteraman hati sesama)
5. Tembang Macapat Kinanthi
Kinanthi berasal dari kata kanthi atau tuntunan. Seorang anak yang tumbuh dan berkembang membutuhkan tuntunan dari orang dewasa. Mereka tidak bisa dibiarkan tumbuh begitu saja, oleh karena itu mereka membutuhkan bimbingan atau tuntunan baik dari orang dewasa maupun orang tua yang memiliki pengalamn dan pengetahuan lebih.
Menurut pendapat John Locke dalam teori “Tabula Rasa” (bahasa latin) yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah kertas kosong.
Memiliki pandangan bahwa seroang manusia lahir bagaikan kertas putih kosong tidak mempunyai mental bawaan. Pembentuk kepribadian, perilaku sosial dan emosional, serta kecerdasan yang diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsinya alata indera terhadap dunia diluar dari dirinya sendiri.
Meskipun tidak semuanya benar, dengan rujukan teori tersebut maka seorang anak yang sedang tumbuh membutuhkan bimbingan supaya kelak nanti menjadi manusia dewasa yang dapat dibanggakan. Anak-anak harus mempunyai pendidikan tinggi agar memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang cukup.
Anak-anak perlu diberi pelatihan agar kelak nanti mempunyai keterampilan untuk menjadi kreatif dan mandiri dan sangat penting anak-anak harus diajarkan keimanan serta ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut harus melalui bimbingan dari kinanthi atau orang dewasa/orang tua.
Anoman malumpat sampun (8u)
Prapteng witing nagasari (8i)
Mulat mangandhap katingal (8a)
Wanodya yu kuru aking (8i)
Gelung rusak wor lan kisma (8a)
Kang iga-iga kaeksi (8i)
Kagyat risang kapirangu
Rinangkul kinempi-kempit
Duh sang retnaning bawana
Ya ki tukang walang ati
Ya ki tukang ngenes ing tyas
Ya ki tukang kudu gering
6. Tembang Macapat Dhandhanggulo
Tembang macapat dhangdanggula mempunyai arti harapan yang indah, kata dhangdanggula sendiri dipercaya berasal dari kata gegadhangan yang mempunyai arti bercita-cita, angan-angan atau harapan dan dari kata gula yang memiliki makna manis, indah atau bahagia. Tidak hanya memiliki arti harapan yang indah saja, namun banyak kalangan juga yang menafsirkan dhangdanggula berasal dari kata dhangdang yang berarti burung gagak sebagai lambang duka, serta berasal dari kata gula yang terasa manis sebagai lamban kesukaan.
Kebahagiaan yang dapat tercapai setelah sebuah pasangan bisa melampaui proses suka duka dalam berumah tangga sehingga akan tercapai cita-citanya, seperti cukup sandang, papan dan pangan. Seperti seseorang yang sedang menemukan kebahagiaan bisa diibaratkan lagunya dandanggula.
Lamun sira ameguru kaki
(Jika engkau meminta nasehat dariku)
Amiliha manungsa sanyata
(Pilihlah manusia sejati)
Ingkang becik martabate
(Yang baik martabatnya)
Sarta weruh ing ukum
(Serta mengenal hukum)
Kang ibadah lan kang wirangi
(Yang taat beribadah dan menjalankan ajaran agama)
Sukur oleh wong tapa ingkang wus amungkul
(Apalagi mendapat orang suka perihatin yang sudah mumpuni)
Tan gumantung liyan
(Yang tak tergantung orang lain)
Iku wajib guronana kaki
(Kepadanyalah engkau wajib berguru)
Sartane kawruhanana
(Serta belajar padanya)
7. Tembang Macapat Asmaradana
Asmaradana bermakna asmara dan dahana yang memiliki api asmara. Tembang tersebut menggambarkan masa-masa dirundung asmara, dimabuk, cinta, ditenggelamkan dalam lautan kasih. Asmara mempunyai arti cinta dan cinta merupakan sebuah ketulusan hati, meminjam istilahnya salah seorang penyanyi Pop Balad Ebiet G.Ade dalam sebuah lirik lagunya “Cinta yang kuberi setulus hatiku entah apa yang kuterima aku tak peduli”.
Cinta merupakan anugerah terindah dari Pangeran Gusti Allah dan hal tersebut adalah sebuah bukti keagungannya. “Waja’alna Bainakum Mawwaddah Wa Rahmah, Inna Fi Dzaalika La’aayatil Liqoumi Yatafakkaruun”. Artinya “…Dan Kujadikan diantara kalian Cinta dan Kasih Sayang, sesungguhnya didalamnya merupakan tanda-tanda (Ke-Agungan-Ku) bagi kaum yang berfikir”.
Gegaraning wong akrami
(penguat dalam pernikahan)
Dudu bandha dudu rupa
(bukan harta atau fisik)
Amung ati pawitané
(tetapi hatilah modal utamanya)
Luput pisan kena pisan
(sekali jadi, jadi selamanya)
Lamun gampang luwih gampang
(jika mudah, semakin gampang)
Lamun angèl, angèl kalangkung
(jika sulit, sulitnya bukan main)
Tan kena tinumbas arta
(tak bisa ditebus dengan harta)
Aja turu soré kaki
(jangan tidur terlalu awal)
Ana Déwa nganglang jagad
(ada dewa yang mengelilingi alam raya)
Nyangking bokor kencanané
(menenteng bokor emasnya)
Isine donga tetulak
(yang berisi doa penolak bala)
Sandhang kelawan pangan
(sandang dan pangan)
Yaiku bagéyanipun
(yaitu bagian untuk)
wong melek sabar narima
(orang yang suka tirakat malam, sabar dan menerima)
8. Tembang Macapat Mijil
Tembang macapat mijil menceritakan tentang awal mula hadirnya manusia di dunia ini yang mana merupakan lahirnya seorang anak terlahir dari gua garba Ibu. Istilah lain mijil dalam bahasa Jawa adalah mijil, wiyos, raras, medal, sulastri yang memiliki arti keluar. Macapat mijil merupakan tembang kedua setelah Maskumambang. Tembang macapat maskumambang sendiri mempunya makna janin atau jabang bayi yang masih didalam kandungan ibunya.
Kelahiran merupakan proses dimana seorang sedang memperjuangkan dua nyawa sekaligus dalam satu waktu, yakni antara dirinya sendiri dan anaknnya sedang dalam proses kelahiran. Bagaimanapun beratnya proses tersebut, didalamnya tertanam cinta dan harapan dari seluruh anggota keluarga, harap-harap cemas namun bahagia ketika menanti si jabang bayi lahir.
Jabang bayi yang mijil dari rahim ibunya adalah sebuah kesucian, dia tidak dapat memilih lahir dari siapa. Seperti dijaman edan seperti sekarang ini banyak sekali bayi terlahir dari hubungan diluar pernikahan. Namun tetap bayi tersebut adalah suci, banyak orang mengatakan bahwa bayi yang lahir diluar pernikahan adalah anak haram, persepsi tersebut adalah salah besar apapun yang terjadi bayi baru lahir adalah suci yang haram itu orang tua mereka yang tidak menikah.
Saat bayi pertama kali lahir baru mengenal dunia pertama kali, ia diberikan wewenang untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Ia dihadirkan agar dapat menjadi manusia hingga nanti suatu saat pasti kembali kepada-Nya dengan damai.
Dedalane guno lawan sekti
kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
ono catur mungkur
9. Tembang Macapat Maskumambang
Maskumambang berasal dari sebuah kata mas dan kumambang. Mas atau emas yang memiliki makna berarti suatu yang begitu berharga. Bahwa, meskipun anak masih didalam kandungan merupakan sebuah harta yang tidak ternilai. Mambang atau kemamambang ialah memiliki arti mengambang. Jadi maskumambang menggambarkan seorang bayi yang hidup mengambang didalam rahim ibunya. Selama kurang lebih 9 bulan tumbuh dan hidup didalam dunia ibunya yaitu rahim.
Kata mas masih belum diketahui maksud dari artinya merupakan laki-laki atau perempuan dan kata kumambang artinya hidup yang masih mengambang atau bergantung di alam kandungan sang ibu.
Kelek-kelek biyung sira aneng ngendi (12i)
Enggal tulungana (6a)
Awakku kecemplung warih (8i)
Gulagepan wus meh pejah (8o)
10. Tembang Macapat Megatruh
Megatruh merupakan penggabungan dari dua kata yaitu megat dan ruh, yang mana arti dari megat adalah berpisah maka arti dari megatruh adalah terpisahnya nyawa atauh ruh dari jasad. Terlepasnya ruh merupakan proses dari menuju keabadian, entah itu di surga atau di neraka tergantung dari amal perbuatan kita di dunia.
Pujangga WS Rendra pada saat bulan purnama ditengah malam bulan Sya’ban tepatnya pada tanggal 6 Agustus atau tanggal 15 Sya’ban. Saat menjelang Sakratul Maut tepat diatas ranjang kematiannya dia bersyair:
“Aku ingin kembali pada jalan alam”
“Aku ingin meningkatkan pengabdian pada Allah”
“Tuhan aku cinta pada-Mu”
Seperti firman Allah SWT:
“Kullu Nafsin Dzaaiqotul Maut”, artinya “Setiap Jiwa Pasti Akan Mati”. “Kullu Man Alaiha Faan”, artinya “Setiap Manusia Pasti Binasa”.
11. Tembang Macapat Durma
Durma merupakan menceritakan tentang sifat-sifat buruk. Menurut beberapa kalangan menafsirkan bahwa durma sebagai munduring tata krama atau dalam bahasa Indonesia berarti mundurnya etika. Namun ada beberapa yang berpendapat berasal dari kata Derma yang memiliki arti suka berbagi rejeki pada orang lain.
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah maka kita sesama mahluk hidup harus saling berderma. Durma berasal dari kata (sedekah) berbagi kepada sesama. Dengan berderma meningkatkan empati sosial kepada saudara-saudara kita yang kekurangan, mengulurkan tangan berbagi kebahagiaan, dan meningkatkan kepekaan jiwa dan rasa peduli terhadap kondisi lingkungan masyarakat sekitar.
Mundur kang dadi tata krama
(Mundur (menjauhi) dari etika)
Dur iku duratmoko duroko dursila
(Dur, itu pencuri, penjahat tak beretika)
Dur iku durmogati dursosono duryudono
(Dur, seperti Durmogati, Dursasana, Duryudana)
Dur udur tan mampu nimbang rasa
(Dur, mau menang sendiri, tak menimbang rasa)
Dur udur paribasan pari kena
(Dur, perumpamaan sekenanya)
Maknane nglaras rasa jroning durma
(Itu perumpamaan Durma)
Sinom dhandanggula kang sinedya
(Remaja dalam mimpi-mimpi indah)
Lali purwaduksina kelon asmaradana
(Lupa segalanya berpeluk asmara)
Lali wangsiting ibu lan rama
(Lupa pesan Ibu Bapaknya)
Mangkono werdine gambuh durma
(Seperti perumpamaan Gambuh dan Durma)
Amelet wong enom ing ngarcapada
(Yang selalu memikat semua kaum remaja dalam kehidupan di muka bumi)
Pan mangkono
(Seperti itu)
Jarwane paribasan parikena
(Maksud pengertian sekenanya)



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan apa yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemahaman kembali kearifan lokal etnik Jawa dalam tembang macapat sangat urgen dalam rangka pembentukan budi pekerti luhur bangsa Indonesia. Dikatakan demikian karena tembang macapat mengandung ajaran budi pekerti luhur bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Jika masyarakat melaksanakan pendidikan, piwulang, atau ajaran tersebut, dapat diprediksikan terciptanya kehidupan yang harmonis dan seimbang antara manusia dengan Tuhan, pemimpin, dan manusia yang lain, termask di dalamnya alam semesta.
Kearifan lokal etnik Jawa yang berupa ajaran yang bersumber dari tembang macapat itu dapat dimanfaatkan sebagai model dalam menanamkan budi pekerti bagi bangsa Indonesia. Penanaman budi pekerti melalui tembang tersebut dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi masyarakat masing-masing. Jenis tembang yang dipilih menyesuaikan dengan cita rasa tembang masyarakat daerah masing-masing. Misalnya di Jawa menggunakan media tembang macapat. Di Bali dan Sunda juga ada macapat, mungkin di Betawi dengan tembang yang dibungkus gambang kromong. Di Sumatra atau daerah lain dengan lagu daerahnya masing-masing.










Daftar Pustaka

Arps, Bernard. 1992. Tembang in Two Traditions: Performance and Interpretation of Javanese Literature. London: University of London
Behrend, T.E. 1990. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara: Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Jakarta: Djambatan.
Casson, Ronald W. 1981. Language, Culture, and Cognition. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.
Halliday, M.A.K. & Ruqaiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial (terjemahan Asruddin Barori Tou). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Laginem, Slamet Riyadi, Prapti Rahayu, Sri Haryatmo. 1996. Macapat  tradisional dalam Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Marsono. 1996. “Lokajaya: Suntingan Teks, Terjemahan Struktur Teks, Analisis Intertekstual, dan Semiotik”. Disertasi. Yogyakarta: Pascasarjana UGM.
________.2007. “Revitalisasi Kearifan Lokal Guna Mewujudkan Masyarakat Sejahtera” dalam Kemajuan Terkini Riset Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: LPPM UGM.
Sapir. Edward. 1960. Culture, Language, and Personality. USA: University of California Press.

Tedjohadisumarto, R. 1958. Mbombong Manah 1. Jakarta: Djambatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MTsN 1 Klaten Di Jeblog mengadakan Asesment berbasis ANDROID

  Kesekian kalinya MTsN 1 Klaten Di Jeblog melaksanakan Asesment Akhir Semester (ASAS) Gasal tahun pelajaran 2025/2026 berbasis Android. Sebanyak 77 siswa telah siap mengikutinya. Untuk menghadapi pelaksanaan ASAS para siswa sudah diberikan pengarahan bagaimana cara menggunakan Android untuk mengerjakan soal soal Asesment. Pengarahan dilakukan untuk memberikan  penjelasan langkah langkah mengerjakan soal soal Asesmen, juga dimaksudkan memberikan pembelajaran kepada siswa bahwa Android bisa difungsikan untuk hal hal yang bermanfaat dan positif. Asesment akan dilaksanakan selama satu pekan mulai tanggal 24 Nopember sampai dengan 29 Nopember. Para siswa akan dihadapkan dengan soal soal untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran selama satu semester. Selain digunakan sebagai pengukur kemampuan siswa juga digunakan untuk memperbaiki kekurangan kekurangan guru dalam memberikan pembelajaran selama satu semester. Maka kejujuran para siswa dalam mengerjakan soal soal as...

MTsN 1 KLATEN DI JEBLOG mengadakan Parenting

  Parenting atau parental meeting adalah pertemuan antara orang tua dan guru mensinergikan dalam membimbing dan mendidik anak. Bersekolah bukan hanya menerima pelajaran akan tetapi juga menerima bimbingan. Maka diperlukan kerjasama bahu membahu antara orang tua dan guru. Pada kesempatan ini, MTsN Jeblog mengundang motivator dan juga merupakan Guru MTsN Jeblog Sugeng Narwanto, S.Pd.,CH., CHt., C.STMI. Dalam sambutannya, Muhammad Amirudin, S.Ag.,M.Pd. selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan bahwa dalam membimbing dan mendidik anak itu harus dengan ilmu. Kesuksesan akan terwujud dengan ilmu. Jika ingin bahagia di dunia dan di akherat maka baginya Ilmu. Demikian juga yang disampaikan bapak Agus Suyatno selaku ketua komite, dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa sikap tegas guru dibutuhkan dalam membimbing anak. Kegiatan berjalan dengan penuh semangat, peserta kegiatan antusias mengikutinya hingga selesai.

MTsN 1 Klaten Di JEBLOG Melatih Keterampilan Siswa Bersama SMK

  Membekali anak dengan keterampilan sangat penting dilakukan sejak dini. Mereka nantinya akan berhadapan dengan tanggung jawab dalam menghidupi dirinya dan keluarganya. Maka dibutuhkanlah keterampilan. MTsN 1 Klaten di Jeblog bersama-sama SMK Muhammadiyah Delanggu membekali keterampilan di bidang otomotif, farmasi, dan multimedia.